Hindari Wajib Militer! Ribuan Pria Tinggalkan Rusia, TAKUT Disuruh Putin Berperang di Ukraina

Ribuan pria di Rusia kabur dari negara itu. Para pria dengan usia sesuai wajib militer itu takut dikirim ke garis depan Perang di Ukraina.

Editor: Putri Safitri
AFP/OLGA MALTSEVA
Petugas polisi menahan demonstran di Saint Petersburg pada 21 September 2022, menyusul seruan untuk memprotes mobilisasi parsial yang diumumkan oleh Presiden Vladimir Putin. - Presiden Vladimir Putin memanggil pasukan cadangan militer Rusia pada 21 September, mengatakan janjinya untuk menggunakan semua sarana militer di Ukraina "bukan gertakan", dan mengisyaratkan bahwa Moskow siap menggunakan senjata nuklir. Seruan mobilisasinya datang ketika wilayah Ukraina yang dikuasai Moskow bersiap untuk mengadakan referendum pencaplokan minggu ini, secara dramatis meningkatkan taruhan dalam konflik tujuh bulan dengan mengizinkan Moskow untuk menuduh Ukraina menyerang wilayah Rusia. 

TRIBUNPALU.COM - Ribuan pria yang merupakan warga Rusia memutuskan kabur dari negara itu.

Para pria dengan usia sesuai wajib militer itu takut dikirim ke garis depan Perang di Ukraina.

Hal itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bakal adanya mobilisasi militer parsial untuk perang di Ukraina.

Seorang warga Moskow pun mengungkapkan keengganannya untuk bergabung dengan tentara Rusia.

“Saya tak ingin menjadi umpan untuk meriam,” tutur pria berusia 30 tahun yang meminta anonimitas itu kepada The Moscow Times, Rabu (21/9/2022).

Cara paling tepat untuk menghindari wajib militer adalah meninggalkan negara itu ke Armenia, Turki atau Azerbaijan.

Ketiga negara itu mengizinkan orang Rusia masuk tanpa visa.

Tiket untuk pergi ke negara-negara tersebut dilaporkan sudah terjual habis.

“Saudara saya ketakutan. Kami mencoba membelikannya tiket pesawat di mana saja,” ujar seorang perempuan Rusia, yang saudaranya baru saja menyelesaikan wajib militernya.

“Kami hanya berharap ia bisa melewati perbatasan tanpa ada masalah,” tutur perempuan yang menolak disebutkan namanya.

Hal yang sama diungkapkan Oleg, 29 tahun yang baru menyelesaikan wajib militernya.

“Tentu saja saya takut. Saya ingin menghindari wajib militer, dan akan meninggalkan negara ini jika keuangan saya memungkinkan dan memiliki teman di luar negeri,” ujarnya.

“Saya sedang mencari tahu apa yang mungkin bisa dilakukan,” katanya.

Meski hukum Rusia melarang adanya pergerakan jika dilakukan mobilisasi umum namun Kremlin belum mengambil langkah menutup perbatasan Rusia.

Kepala Komite Pertahanan Duma Negara Rusia Andrei Kartapolov mengatakan bahwa perbatasan Rusia kemungkinan akan tetap terbuka.

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak untuk mengomentari masalah tersebut.

Mobilisasi  Militer

Menurut dekrit yang diterbitkan di situs web Kremlin, panggilan itu hanya akan berlaku untuk tentara cadangan dengan pengalaman militer.

Menhan Shoigu berujar, ini berarti akan membuat sekitar 300.000 prajurit tersedia.

Dia menambahkan, hanya orang berpengalaman tempur dan layanan relevan yang akan dimobilisasi.

Ada kira-kira 25 juta orang yang memenuhi kriteria itu tetapi hanya sekitar 1 persen dari mereka yang akan dimobilisasi.

Mereka akan diberikan lebih banyak pelatihan sebelum dikerahkan ke Ukraina dan tidak termasuk pelajar atau orang yang hanya bertugas sebagai wajib militer.

Apa itu mobilisasi?

Hukum Rusia mengizinkan mobilisasi jika terjadi agresi asing atau serangan terhadap Rusia — ini tentang mempersiapkan ekonomi Rusia dan Angkatan Bersenjata untuk perang.

Secara khusus, itu berarti memanggil cadangan militer Rusia.

Ini adalah pertama kalinya Rusia melakukan mobilisasi sejak invasi Nazi ke Uni Soviet pada 1941.

Selama ini Rusia selalu menggambarkan invasinya ke Ukraina sebagai “operasi militer khusus”.

Selama ini pula Kremlin belum memperkenalkan tindakan apa pun yang secara tradisional terkait dengan masa perang.

Reaksi Presiden Ukraina

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy memutuskan bersikap keras atas mobilisasi militer parsial yang dilakukan Rusia.

Ia mengungkapkan Rusia berbohong dengan melakukan mobilisasi militer, setelah selalu berkata siap melakukan negosiasi perdamaian.

Zelenskyy pun dengan tegas mengungkapkan tak akan ada perdamaian dengan Rusia.

Hal itu diungkapkan Zelensky pada pidatonya melalui sambungan video di Majelis Umum PBB, Rabu (21/9/2022).

“Untuk pembicaraan antara Ukraina dan Rusia, mungkin Anda sudah mendengar kata-kata yang berbeda dari Rusia terkait pembicaraan, seperti mengatakan mereka siap untuk itu,” katanya dikutip dari TASS.

“Mereka mengatakan siap berbicara, tetapi mengumumkan mobilisasi militer. Mereka selalu mengatakan siap berbicara, tetapi mengumumkan pseudo-referendum (terkait Donbas dan Luhansk),” kata Zelenskyy.

Presiden berusia 44 tahun itu menegaskan ia tak akan menyertakan solusi yang akan bertentangan dengan formula perdamaian yang diajukan Ukraina.

“Mereka yang berbicara mengenai netralitas berarti memiliki sesuatu hal lainnya. Mereka terlihat seperti melindungi seseorang, tetapi kenyataannya hanya melindungi kepentingan mereka,” katanya. 

(*/ TribunPalu.com / Tribunnews.com )

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved