Ricuh di Stadion Kanjuruhan

Belasan Anak Jadi Korban Ricuh di Stadion Kanjuruhan, KPAI: Efek Gas Air Mata Sangat Fatal Bagi Anak

Komisioner KPAI ungkap ada belasan anak-anak meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022).

Editor: Putri Safitri
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Komisioner KPAI Retno Listyarti menyoroti penggunaan gas air mata dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang yang menewaskan sejumlah anak. 

TRIBUNPALU.COM - Ratusan orang meninggal dunia dalam Ricuh di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan itu.

Komisioner KPAI Retno Listyarti pun menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya ratusan korban jiwa dan luka-luka dalam Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan,

Ia mengungkapkan terdapat belasan anak-anak yang meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) malam.

"17 di antaranya masih usia anak dan 7 anak lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit," kata Retno melalui keterangan tertulis, Senin (3/10/2022).

Retno menyoroti penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan dalam mengendalikan suporter di Stadion Kanjuruhan.

Tragedi di dunia sepakbola terbesar yang pernah terjadi di Peru pada tahun 1964 yang menewaskan 328 jiwa, kata Retno, juga disebabkan penggunaan gas air mata oleh aparat.

"Gas air mata memang sangat berbahaya, terlebih bagi anak. Karena efek yang dirasakan dari gas air mata memang sangat fatal untuk anak," ungkap Retno.

Efek tersebut, kata Retno, berupa rasa terbakar pada kulit, perih pada mata, rasa tercekik di saluran pernafasan.

Lalu rasa terbakar yang parah di tenggorokan, keluar lendir dari tenggorokan, muntah.

Bahkan jika serbuk tersebut masuk hingga ke paru-paru dapat menyebabkan nafas pendek,l dan sesak nafas.

"Itulah mengapa penggunaan gas Air mata tersebut dilarang oleh FIFA. FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion," ujar Retno.

Selain itu, Retno juga menyoroti keputusan pihak penyelenggara yang tetap menyelenggarakan pertandingan pada malam hari.

"Memang membawa anak-anak dalam kerumunan massa sangat berisiko, apalagi di malam hari, karena ada kerentanan bagi anak-anak saat berada dalam kerumunan, karena kita tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam kerumunan tersebut. Namun, masyarakat mungkin membutuhkan hiburan setelah pandemi sudah berlangsung 2 tahun," pungkas Retno.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved