OPINI

Stop Eksploitasi Anak di Bawah Umur

Kasus eksploitasi anak banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat yang seharusnya mendidik dan mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik serta menda

Editor: Haqir Muhakir
Handover
Harlina, Pelajar dan Pengemban Dakwah asal Sulteng 

Oleh: Harlina

Pelajar dan Pengemban Dakwah asal Sulteng

Korban penyekapan dan eksploitasi anak di bawah umur berinisial NAT (15 tahun) tidak mengetahui bahwa pekerjaan yang ditawarkan terlapor EMT adalah pekerja seks komersial (PSK).

Korban hanya dijanjikan penghasilan besar dan dijebak dengan alasan memiliki utang. “Tidak ada, hanya itu, korban juga diiming-imingi akan mempunyai uang yang banyak untuk bisa membayar hutang.” ujar ayah korban berinisial MRT (49 tahun), saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (16/9/2022).

Sebelum, Polda Metro Jaya menyelidiki kasus penyekapan dan eksploitasi seksual anak di bawah umur selama 1,5 tahun sejak Januari 2021. Korban berinisial NAT (15) ditawari pekerjaan dengan imbalan atau penghasilan besar.

Kasus ini sendiri dilaporkan ke Polda Metro Jaya dengan terlapor seorang perempuan berinisial EMT.

"Kalau dari pemeriksaan awal terlihat motifnya menjanjikan sejumlah uang tetapi nyatanya kerajaan yang diberikan itu adalah pekerjaan untuk melakukan hubungan badan ataupun prostitusi dijual ke orang lain dengan harga tertentu,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan dalam keterangannya, Sabtu (17/9/2022).

Anak merupakan sebuah penerus bangsa yang harus dijaga dan dijamin kehidupannya oleh bangsa dan negara, anak juga harus memperoleh haknya, sebagaimana menjadi manusia yang semestinya.

Dalam Pasal UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 1 nomor 1 mengatakan bahwa batasan usia anak yaitu mereka yang belum berusia 18 tahun.

Sehingga dapat dikatakan bahwa anak dibawah umur ketika berusia dibawah 18 tahun. Sedangkan pada Pasal 45 KUHP anak dikatakan dibawah umur atau anak tersebut belum dewasa adalah anak yang usianya belum mencapai usia 16 tahun.

Dalam hal ini anak masih berhak memperoleh haknya, sebagai seorang anak seperti mendapat penghidupan yang layak, mendapat kasih sayang orang tua, mendapat bimbingan dari orang tua, serta menempuh pendidikan.

Anak dibawah umur dikatakan sebagai seorang anak yang belum dewasa atau belum menikah, sehingga sangat penting dalam memperhatikan hak-hak mereka, karena hak asasi seorang anak juga merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana yang tertuang dalam UUD 145 28 A sampai dengan 28 J.(Andi Akbar, 2020).

Anak dibawah umur harus dilindungi dan berkembang baik dalam lingkungan masyarakat, agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi penerus bangsa yang berkualitas, Seorang anak harus dibimbing dan mendapatkan hak- haknya sebagai seorang anak dalam kehidupan ini, perlu adanya peran orang tua dalam pemenuhan hak anak yang masih dibawah umur.

Dalam hal ini anak dibawah umur cenderung masih sangat membutuhkan dukungan, bimbingan dari orang tua untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang berkualitas.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved