Banggai Hari Ini

Dari Festival Sastra Banggai, Pangan Lokal yang Kian Tersingkir dari Meja Makan

Festival Sastra Banggai tahun 2022 mengangkat isu ketahanan pangan menjadi fokus utama seiring ancaman krisis pangan yang mengintai.

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Festival Sastra Banggai tahun 2022 mengangkat isu ketahanan pangan menjadi fokus utama seiring ancaman krisis pangan yang mengintai. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI – Dari para pembicara di Festival Sastra Banggai menyingkap berbagai persoalan ketahanan pangan yang terjadi di Nusantara dan kian tersingkir dari meja makan. 
 
Diketahui, tautan keenam Festival Sastra Banggai tahun 2022, ketahanan pangan menjadi fokus utama seiring ancaman krisis pangan yang mengintai.
 
Karena itu, terdapat kelas-kelas di Festival Sastra Banggai bertema tentang pangan, salah satunya Puasa Monokultur: Membaca Alternatif Moda Pangan yang berlangsung pada Jumat (25/11/2022).
 
Kelas ini menghadirkan penulis Fatris MF, AS Rosyid, dan Mustafa Abdul Rahim sebagai pembicara dan dipandu Ama Achmad sebagai moderator.
 
Fatris menceritakan, dalam perjalanannya di Papua, ia menemukan anak-anak terkena stunting, padahal di wilayah itu merupakan lumbung ikan dan sagu.

Baca juga: Sekretaris PAPPRI Sulteng Sedih, Karya Musisi Lokal Kurang Diminati Masyarakat

Penyebabnya, karena anak-anak yang terkena stunting itu berpindah dari tempat tinggal aslinya ke tempat menuntut ilmu, yang nyaris tak tersedia sumber pangan lokal, yakni sagu.
 
“Ketika saya di sana, tidak heran ikan tengiri 60 senti itu dihargai dengan dua bungkus mi,” kata Fatris. 
 
Dalam program ini, Fatris MF dan AS Rosyid serta akademisi Universitas Muhammadiyah Luwuk membahas persoalanan ketahanan pangan. 
 
Adapun AS Rosyid menemukan di sebuah daerah para petani jagung harus menjual hasil produksinya seharga Rp3.000 kilogram hanya untuk membeli beras sebesar Rp9.000 per kilogram.
 
AS Rosyid berharap pangan lokal seperti sayur lilin, jepa dari sagu, Ubi Banggai, dan pisang louwe kalah bersaing dengan produk modern yang dirasa lebih cocok di lidah. 
 
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai Mustafa Abdul Rahim juga berpandangan pangan lokal mesti terus dipertahankan sebagai sumber nutrisi. 
 
“Tidak dilarang makan itu (pangan impor), tapi kita punya stok pangan lokal yang mesti diperjuangkan,” ujar mantan Dekan Fakultas Pertanian ini.
 
Monokultur dan Multikultur 
 
AS Rosyid mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pasar, industri mencangkok banyak tanah untuk menanam bahan baku secara monokultur dari yang awalnya dalam hutan itu terdapat beragam hewan dan tumbuhan.
 
“Tapi itu semua itu dirabas untuk ditanami apa yang menjadi kepentingannya industri,” katanya. 
 
Monokultur adalah cara penanaman satu jenis tanaman dalam satu urutan musim pada tanah yang sama. Hal ini berbeda dengan multikultur yang pola pertanamannya pada tanah yang sama ditanami beberapa jenis tanaman.
 
Sementara itu, Fatris menceritakan bahwa nenek moyang telah mencoba menggeser pola pertanaman multikultur dengan menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan.
 
“Nenek moyang kita mencoba menggeser apa yang kita sebut dengan multikultur, Biasanya nenek moyang kita menanam sedikit-sedikit, sayur ditambah buah,” jelasnya. 
 
Namun, kini ekspansi industri untuk menanam menggunakan pola monokultur menjadi tantangan. Hal diakui Fatris tanaman monokultur telah terbentang dari Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi seperti sawit. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved