Sulteng Hari Ini
7 Smelter Terbesar di Indonesia, 2 Ada di Sulawesi Tengah
Pembangunan Smelter menjadi target pemerintah guna mengakselerasi pembangunan hilirisasi
TRIBUNPALU.COM, PALU - Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan 53 Smelter (unit pemurnian mineral) hingga 2024.
Terdiri dari 30 smelter nikel, 11 Smelter bauksit, 4 Smelter tembaga, 4 Smelter besi, 2 Smelter mangan, 1 Smelter seng, dan 1 Smelter timbal dengan kebutuhan listrik mencapai 5,6 GW.
Indonesia saat ini mempunyai 21 unit Smelter di tahun 2021.
Pembangunan Smelter menjadi target pemerintah guna mengakselerasi pembangunan hilirisasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, memberikan nilai tambah.
Smelter adalah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, Nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir.
Baca juga: Diresmikan Presiden Jokowi, Smelter Nikel Baru Hadir di Morowali Utara
Proses tersebut telah meliputi pembersihan mineral logam dari pengotor dan pemurnian.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, ada 7 Smelter Terbesar di Indonesia yang sudah selesai dibangun.
Berikut daftar Smelter Terbesar di Indonesia:
1. PT Well Harvest Winning Alumina Refinery
PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT WHW Alumina Refinery) berlokasi di Ketapang, Kalimantan Barat.
Smelter ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun dengan grade alumina (SGA).
Selain itu Smelter ini juga mempunyai kapasitas input sebesar 4.039.200 ton per tahun untuk bauksit.
2. PT Tsingshan Steel Indonesia
PT Tsingshan Steel Indonesia terletak di Morowali, Sulawesi Tengah.
Smelter PT Tsingshan Steel Indonesia berkapasitas produksi 507.000 ton per tahun untuk Nikel pig iron (NPI) atau bahan baku stanless steel.
Perusahaan ini juga mempunyai kapasitas input sebesar 4.500.000 ton per tahun.
3. PT Indonesia Chemical Alumina
PT Indonesia Chemical Alumina berlokasi di Tayan, Kalimantan Barat.
Smelter perusahaan ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300.000 ton per tahun chemical grade alumina (CGA).
PT Indonesia Chemical Alumina juga memiliki kapasitas input sebesar 1 juta ton per tahun.
4. PT Sulawesi Mining Investment
PT Sulawesi Mining Investment terletak di Morowali, Sulawesi Tengah.
Smelter PT Sulawesi Mining Investment berkapasitas produksi sebesar 300.000 ton per tahun untuk Nikel pig iron.
Selain itu, smelter ini memiliki kapasitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel sebesar 3.000.000 ton per tahun.
5. PT Smelting
PT Smelting yang berlokasi Gresik, Jawa Timur memiliki kapasitas produksi sebesar 300.000 ton per tahun katoda tembaga.
Perusahaan ini bergerak dalam pengolahan dan pemurnian bijih tembaga di Indonesia, baik yang diperoleh dari PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, maupun yang lainnya.
Adapun smelter ini memiliki kapasitas input sebesar 1 juta ton per tahun.
6. PT Megah Surya Pertiwi
Memiliki kapasitas produksi 198.158 tpy ferronickel (FeNi), perusahaan ini bergerak dalam bidang pengolahan dan pemurnian bijih nikel dengan kapasitas input sebesar 2.079.733 ton per tahun.
7. PT Wanatiara Persada
Masih di pengolahan dan pemurnian nikel, PT Wanatiara Persada memiliki kapasitas produksi sebesar 161.740 ton per tahun FeNi dan kapasitas input sebesar 2.229.656 ton per tahun.
Baca juga: Gubernur Sulteng Sebut Akan Ada Pembangunan Smelter Nikel di Banggai
Pabrik Lithium untuk Bahan Baterai
Indonesia sedang membangun Pabrik Lithium refinery dan fasilitas produksi bahan anoda untuk melengkapi industri bahan baterai berbasis Nikel.
Investor saat ini sedang membangun pabrik lithium hidroksida dengan kapasitas 60.000 ton di jantung industri Nikel di Morowali.
Pabrik material anoda dengan kapasitas 80.000 ton akan mulai dibangun pada bulan Januari.
Kedua bahan tersebut dibutuhkan untuk membuat baterai EV.
Indonesia sudah mulai memproduksi suku cadang baterai EV yang diekstraksi dari Nikel, tetapi bahan lain juga dibutuhkan untuk memproduksi baterai EV.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/SMELTER.jpg)