OPINI

Menuju Narasi Ketujuh Festival Sastra Banggai 2023

Festival Sastra Banggai menjalin kolaborasi dan mengandalkan kerja jejaring dengan perkumpulan atau festival serupa di luar Kabupaten Banggai. 

Editor: mahyuddin
handover
Ama Achmad - Penulis, Editor, Aktivis Literasi 

Ama Achmad

Penulis, Editor, Aktivis Literasi

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Festival Sastra Banggai pelaksanaan tahun keenam berakhir dengan hangat dan manis.

Seperti lagu Kapal Udara yang dilantunkan di malam kedua Festival Sastra Banggai yang berjudul Menanam; sesungguhnya yang dikerjakan oleh festival ini adalah menanam harapan.

Harapan besar yang tolok ukurnya bukan dengan waktu, melainkan ketika ekosistem literasi yang bertumbuh dan distribusi pengetahuan yang setara—merata. 

Kerja-kerja kemanusiaan untuk literasi, pendidikan, dan kebudayaan ini tak mudah. Setiap yang bergelut di dalamnya mengorbankan masa muda, barangkali juga waktu untuk bersenang-senang. 

Festival Sastra Banggai keenam, dimulai dengan kerja keras dan ketabahan menunggu kabar baik.

Kemungkinan baik pasti ada, dan akhirnya ada tangan terulur yang mewujudkan hadirnya Tautan Keenam: Mengungkai Acak, Menyimpul Padu. 

Titik pijak Festival Sastra Banggai adalah kerelawanan; saat pengetahuan didistribusi melalui pembicara atau narasumber yang hadir; pun ketika pertunjukan-pertunjukan seni dan budaya digelar untuk masyarakat Banggai Bersaudara.

Festival Sastra Banggai menjalin kolaborasi dan mengandalkan kerja jejaring dengan perkumpulan atau festival serupa di luar Kabupaten Banggai

Kerja kolaborasi adalah kunci untuk membuat setiap gerakan literasi, pendidikan, dan kebudayaan terus berjalan, bertumbuh, dan seterusnya ada. Kerja kolaborasi sudah sejak awal dilakukan. 

Menyimpul ikatan dengan Makassar International Writers Festival, menautkan jemari dengan patjarmerah, menggandeng Nemu Buku, dan menjalin ikatan dengan kawan-kawan di luar Kabupaten Banggai; yang dengan tulus memberi diri untuk keberlanjutan festival ini. 

Selain ruang belajar, kerja kolaborasi ini melahirkan satu karya yang di dalamnya terhimpun anak-anak muda dari Banggai Bersaudara. “Musim yang Pergi” antologi bersama ini lahir dari 7 bulan residensi virtual yang intens. 

Setiap tahun festival ini mengusung tema berbeda; sesuai dengan isu yang hangat dan perlu ditanggapi, didiskusikan di ruang-ruang belajar Festival Sastra Banggai

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved