Senin, 8 Juni 2026

Sulteng Hari Ini

Ritual Nopamada, Upacara Adat Suku Kaili dan Kulawi Sulteng Dampingi Keluarga Hadapi Sakratulmaut

Bagi masyarakat Kaili, momen seperti itu adalah waktu berharga untuk hadir bersama dengan keluarga dan ikut serta menyaksikan jalannya upacara.

Tayang:
Editor: mahyuddin
handover/bersamadakwah.net
Ilustrasi Sakaratul Maut - Di Sulawesi Tengah, juga terdapat Upacara Adat atau Ritual kematian. Namanya Upacara Adat Nopamada. 

TRIBUNPALU.COM - Indonesia dikenal memiliki ragam budaya tersebar di seluruh Nusantara dengan khas masing-masing daerah.

Tidak hanya kesenian, namun juga beragam Upacara Adat.

Upacara Adat di Bumi Pertiwi juga beragam, tergantung tujuan penyelenggarannya.

Mulai dari kelahiran hingga kematian.

Di Sulawesi Tengah, juga terdapat Upacara Adat untuk kematian.

Namanya Ritual Nopamada.

Tradisi maupun ritual ini dianut Suku Kaili dan Suku Kulawi.

Ritual Nopamada adalah sebuah upacara yang dilakukan pada saat-saat seseorang menjelang sakratulmaut.

Dikutip dari budaya-indonesia, Sabtu (25/2/2023), Upacara Adat Nopamada biasanya dilakukan keluarga dekat.

Baca juga: Mengenal 3 Rumah Adat di Sulawesi Tengah, Mulai dari Souraja hingga Tambi

Seluruh keluarga berkumpul dan berjaga-jaga menjelang ajal seseorang di antara mereka.

Bagi masyarakat Kaili, momen seperti itu adalah waktu berharga untuk hadir bersama dengan keluarga dan ikut serta menyaksikan jalannya upacara.

Tanda-tanda orang yang sedang mengalami sakaratul maut oleh masyarakat Kaili biasa disebut dengan Nantapasaka.

Di saat-saat sekarat seperti itu, anggota keluarga atau orang yang berilmu akan memberikan tuntunan dengan cara membisikkan pengajaran ke telinga orang sekarat tersebut secara bergantian.

Prosesi ini disebut dengan Mopotuntuka Ritalinga.

Pada zaman dahulu, tuntunan sakaratul maut ini biasa dilakukan oleh seorang sando (dukun).

Sando membaca mogane (mantra) sembari meremas bagian kepala dengan air yang sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra tertentu.

Sementara keluarga dan kerabat akan menyaksikannya dengan tenang.

Dewasa ini, upacara tersebut telah diwarnai dengan peranan agama.

Ketika seseorang mengalami Rilara nuadanga, maka pihak keluarga akan mengadakan pengajian Alquran.

Sementara yang bertugas membisikkan pengajaran atau tuntunan kepada orang yang sekarat tersebut adalah anggota keluarga terdekat atau seorang guru yang dianggap memiliki ilmu agama yang baik.

Kalimat yang dibisikkan ke telinga orang tersebut pada saat Nipotuntuka Ritalinga adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah”.

Baca juga: 4 Abad Warga Batui Banggai Lestarikan Ritual Adat Mombowa Tumpe

Sesuai dengan ajaran Islam bahwa siapa yang mampu mengucapkan kalimat tauhid di saat-saat terakhirnya, maka orang tersebut berhak masuk surga.

Inti dari Ritual Nopamada ini adalah mengajarkan atau menuntun orang yang mengalami sakaratul maut dengan suatu petunjuk yang diyakini dapat membuka jalan yang lurus, agar roh dapat keluar dengan tenang pada saat menghembuskan nafas terakhir.

Ajaran tersebut oleh masyarakat Kaili biasa disebut dengan “jalan ngamatea” atau jalan menuju kematian.

Isinya mempelajari tanda-tanda akan datangnya ajal dan jalan yang akan ditempuh roh seseorang menuju alam baka.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved