Rabu, 8 April 2026

Perang Gaza

Efek Perang Gaza, Perusahaan India Stop Jual Seragam Polisi ke Israel

Perang ini tak hanya membawa dampak bagi negara Israel dan Palestina, tetapi juga datang dari negara-negara lain, termasuk India.

Handover
Foto Ilustrasi - Perang antara pasukan militer Israel dan pejuang Hamas terus berkecamuk di Jalur Gaza. 

TRIBUNPALU.COM - Perang antara pasukan militer Israel dan pejuang Hamas terus berkecamuk di Jalur Gaza.

Perang ini tak hanya membawa dampak bagi negara Israel dan Palestina, tetapi juga datang dari negara-negara lain, termasuk India.

Sebuah perusahaan India, Maryan Apparel menghentikan penjualan seragam polisi ke Israel.

Direktur Pelaksana Maryan Apparel Thomas Olickal pada Jumat (20/10/2023) mengatakan kepada Kantor berita AFP, bahwa mereka telah membuat keputusan moral sehubungan dengan perang di Gaza.

Perusahaan beroperasi di Negara Bagian Kerala, India selatan tersebut tercatat telah memasok sekitar 100.000 seragam ke kepolisian Israel setiap tahun sejak 2015.

“Ini adalah keputusan moral,” kata Olickal.

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan pada Rabu (18/10/2023), dia mengatakan serangan terhadap sebuah rumah sakit dan hilangnya ribuan nyawa tak berdosa di Gaza telah mendorong keputusan tersebut.

Israel dan Palestina saling menyalahkan atas serangan mematikan pada hari Selasa (17/10/2023) di rumah sakit Ahli Arab di Kota Gaza.

Para pemimpin global mengutuk serangan tersebut dan protes pun meletus di seluruh dunia Muslim dengan ketidaksepakatan mengenai jumlah korban jiwa dan siapa yang bertanggung jawab.

Kelompok Hamas menuduh Israel menyerang rumah sakit tersebut selama kampanye pengeboman besar-besaran, dan kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 471 orang, meskipun jumlah tersebut masih diperdebatkan.

Sementara itu, Militer Israel menuding kelompok lain, Jihad Islam Palestina, berada di balik serangan ke RS di Gaza.

Militer Israel menyalahkan serangan roket yang salah sasaran, sebuah versi yang didukung oleh Amerika Serikat, yang komunitas intelijennya memperkirakan antara 100 dan 300 orang tewas.

Olickal mengatakan kepada AFP bahwa perusahaannya akan memenuhi komitmennya terhadap Israel, yang akan berakhir pada bulan Desember, namun tidak akan menerima pesanan baru.

“Kami baik-baik saja melanjutkan bisnis dengan mereka setelah perdamaian pulih,” tambah Olickal, yang mempekerjakan sekitar 1.500 orang di perusahaannya.

Perusahaan ini juga memasok seragam kepada Angkatan Darat Filipina dan pejabat pemerintah di Arab Saudi.(*)

 

(TribunPalu.com/Kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved