Rabu, 3 Juni 2026

Perang Gaza

Akhirnya Israel Setujui Gencatan Senjata, Hamas Bakal Bebaskan 50 Sandera

Israel akhirnya setuju dengan gencatan senjata sementara dalam perang Gaza.

Tayang:
Handover
Ilustrasi - Perang di Jalur Gaza. 

TRIBUNPALU.COM - Israel akhirnya setuju dengan gencatan senjata sementara dalam perang Gaza.

Kesepakatan itu tercapai dalam pembicaraan yang dimediasi oleh Qatar, Rabu (22/11/2023).

Dalam gencatan senjata tersebut, Hamas bakal melepaskan 50 sandera yang ditawan di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Selain itu, kesepakatan ini diperkirakan akan memungkinkan bantuan kemanusiaan dikirim ke Gaza.

Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan, pemerintah telah menyetujui kesepakatan di mana Hamas akan membebaskan 50 perempuan dan anak-anak selama jeda pertempuran sekitar empat hingga lima hari.

Dilansir Al Jazeera, Israel diperkirakan akan membebaskan sekitar 140 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel sebagai imbalannya.

Ada sekitar 237 tawanan yang ditahan di Gaza yang berasal dari Israel dan beberapa negara lainnya.

Namun, warga negara asing diperkirakan tidak diikutsertakan dalam perjanjian tersebut.

150 Warga Palestina akan Dibebaskan

Sementara itu, Hamas mengatakan, kesepakatan telah dicapai, dan menyebutnya sebagai gencatan senjata kemanusiaan di mana 150 perempuan dan anak-anak Palestina akan dibebaskan dari penjara Israel.

Dikutip dari The Guardian, Hamas menyebut, perluasan pengiriman kemanusiaan juga merupakan bagian dari perjanjian tersebut.

Selain itu, disepakati penghentian serangan udara Israel di Gaza selatan selama jeda empat hari, dan serangan udara di Gaza utara dibatasi hingga enam jam sehari.

Menurut pernyataan Hamas, Israel setuju untuk tidak menangkap siapa pun di Gaza selama gencatan senjata sementara berlangsung.

Kata Pejabat AS

Kesepakatan Israel dan Hamas itu dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS).

Pejabat AS itu mengatakan, sandera yang dibebaskan akan mencakup tiga orang Amerika, termasuk seorang gadis berusia tiga tahun.

Menurutnya, pembebasan sandera pertama diperkirakan terjadi pada Kamis (23/11/2023) pagi, dan jumlah sandera yang dibebaskan bisa bertambah.

“Kesepakatan tersebut pada akhirnya disusun untuk memberikan insentif bagi pembebasan yang berusia di atas 50 tahun,” ungkap pejabat senior tersebut, Rabu.

Ia menambahkan, perjanjian itu sekarang disusun untuk perempuan dan anak-anak pada tahap pertama, tetapi dengan harapan untuk pembebasan lebih lanjut.

Sebagai informasi, jika diterapkan, perjanjian tersebut masih akan menyisakan sekitar 190 sandera di Gaza, yang setengahnya diperkirakan adalah personel militer.

Qatar, tempat Hamas berkantor politik, telah menjadi perantara utama antara Israel dan kelompok tersebut, meskipun Mesir dan negara lain juga berperan.

Tidak semua sandera ditahan oleh Hamas, beberapa di antaranya berada di tangan Jihad Islam Palestina dan penjahat di Gaza, kata pejabat Israel dan lainnya.

Sebagian besar sandera adalah orang Israel, namun hampir separuh sandera memiliki kewarganegaraan ganda, termasuk dari Argentina, Jerman, Amerika, Prancis, Thailand, Nepal, dan Rusia.

Rumah sakit di Israel telah siap menerima mereka yang dipulangkan, menurut media Israel.

Diberitakan Al Jazeera, PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perjanjian tidak berarti perang akan berhenti.

Netanyahu berjanji militer Israel akan terus melanjutkan perang setelah jeda pertempuran.

Pemboman Israel diketahui berlanjut sepanjang malam di Gaza, termasuk di sekitar Rumah Sakit Indonesia dan di Khan Younis di selatan wilayah kantong tersebut.

Lebih dari 14.100 orang telah terbunuh di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Di Israel, jumlah resmi korban tewas akibat serangan Hamas mencapai sekitar 1.200 orang.(*)

 

(TribunPalu.com/Tribunnews.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved