Kamis, 28 Mei 2026

Perang Batin Vivit, Melawan Minder Hingga jadi Peserta Terbaik UKW PWI Surakarta

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) gelaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2024

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wahid Nurdin
Dokumen Pribadi
Pravitri Retno Widyastuti, peserta terbaik jenjang muda UKW PWI Surakarta tahun 2024 

TRIBUNPALU.COM - Ekspresi bingung sekaligus kaget tak bisa disembunyikan Pravitri Retno Widyastuti saat namanya disebut sebagai peserta terbaik Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Alila Hotel Solo, Sabtu (25/5/2024).

Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu ia merasa minder bahkan ingin mundur, tiba-tiba berdiri di hadapan peserta dan penguji sebagai lulusan terbaik jenjang muda.

Vivit
Pravitri (Vivit) saat memberikan sambutan di depan penguji dan 29 peserta UKW PWI Surakarta di Alila Hotel, Sabtu (25/5/2024)

Kalau saja ia mengikuti keraguannya dan memilih mundur, perasaan bangga ini tentu tak akan dirasakan. Jangankan lulusan terbaik, luluspun tidak.

Salah satu alasan kuat mengapa ia terus maju adalah PWI sudah menyelenggarakan acara ini secara gratis.

Menurutnya, itu kesempatan luar biasa yang terlalu sayang dilewatkan bagi seorang wartawan sepertinya.

Sambil terkekeh, perempuan bernama sapa Vivit ini menceritakan pengalaman pertama ikut ujian yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Surakarta.

Saat berbincang daring, Selasa (28/5/2024) Vivit mengaku sempat ingin mundur dari UKW karena kurang percaya diri.

Bagaimana tidak, sejak menjalani profesi wartawan sejak 2017 lalu, bisa dibilang ia jarang turun ke lapangan.

Tuntutan pekerjaan membuatnya harus menyelesaikan karya jurnalistiknya di dalam ruangan.

Bagaimana bisa wartawan yang tumbuh dari awal di media online mengerjakan uji kompetensi yang materinya disusun di era koran cetak?

Bagaimana menemui dan menghubungi narasumber? Dua pertanyaan itu sempat membuat Vivit ragu, dan berfikir untuk mundur.

"Sebenernya sempet ada niatan pingin mundur, karena nggak yakin sama kemampuan diri sendiri," kenangnya.

Namun Vivit menyadari, UKW merupakan kewajiban sekaligus ajang pembuktian kelayakannya sebagai wartawan.

Apalagi acara ini diselenggarakan gratis bagi peserta. Padahal kalau berbayar, ia harus merogoh kocek setidaknya satu jutaan untuk UKW.

Baginya, uang segitu merupakan angka yang cukup besar, yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Entah untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi bila mengingat kebutuhan anaknya yang masih kecil.

Pada akhirnya ia merasa sangat rugi jika melewatkan UKW yang diadakan PWI Pusat dan PWI Surakarta itu.

"Yang paling bikin aku maju karena acara ini gratis. Ini sayang banget kalau tidak diambil. Dari segi profesi, menurutku UKW itu salah satu indikator, apakah kita sudah kompeten sebagai wartawan, apakah kita sudah menerapkan KEJ secara benar selama ini," sebut perempuan yang keseharian bekerja di Tribunnews.com Solo.

Meski dalam keseharian ia jarang berinteraksi langsung dengan narasumber, namun mengenai dapur produksi Vivit mengaku sudah sering mengikuti pelatihan dari kantornya.

Materi pelatihan dan aktivitas sehari-hari yang ia kerjakan ternyata sangat relevan dengan materi yang diujikan.

Perempuan berhijab ini benar-benar tidak menyangka di ujung acara dirinya dinyatakan sebagai peserta dengan nilai tertinggi di jenjang muda.

Itu bonus baginya, karena di awal ia hanya berharap lulus.

Dengan lulus UKW, ia bisa membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia kompeten terhadap pekerjaan yang 7 tahun belakangan ini ia tekuni.

“Raihan ini tidak lepas dari pengalaman saya bekerja di Tribunnews.com dan lingkungan kerja yang memotivasi untuk selalu lebih baik,” tutupnya.

Pecahkan 2 Rekor

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar di Hotel Alila Solo 24-25 Mei 2024 merupakan UKW ke-17 yang diselenggarakan di Surakarta.

Acara ini diikuti 30 peserta, terdiri 24 peserta dari jenjang muda dan 6 peserta dari jenjang madya.

UKW PWI Surakarta
Suasana Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar PWI Pusat dan PWI Surakarta 24-25 Mei 2024

UKW gelaran PWI Pusat dan PWI Surakarta kali ini terasa spesial karena mencatatkan 2 rekor sekaligus.

Rekor yang pertama adalah kelulusan peserta 100 persen.

Rekor yang kedua yakni penerbitan sertifikat tercepat dalam sejarah UKW.

Direktur UKW PWI Pusat, Firdaus Komar mengapresiasi kerja PWI Surakarta yang tertib administrasi dalam seleksi calon peserta.

Menurutnya, UKW di Solo fasilitas PWI Pusat yang digelar PWI Surakarta, mencatat sebagai daerah pertama pelaksanaan UKW dengan pendataan peserta yang tidak ada revisi.

Dengan demikian begitu selesai UKW, maka proses sertifikat dan kartu UKW bisa diproses secara cepat.

"UKW yang dilaksanakan PWI Surakarta, daerah pertama yang memiliki data tanpa revisi," katanya.

Ia pun berharap pola semacam ini bisa dilakukan pada UKW-UKW yang lain, sehingga pendataan di Dewan Pers bisa cepat dan efektif.

"Luar biasa ini PWI Surakarta dengan pesertanya. Dua minggu sebelumnya, administrasi sudah clear, sudah disetuji Dewan Pers."

"Kemudian tidak ada revisi lagi setelah UKW, jadi bisa langsung terbit sertifikat UKW-nya. Jadi kuncinya tertib," kata dia.

Firdaus menambahkan, UKW di Surakarta tercepat sepanjang sejarah semenjak diberlakukan sistem aplikasi. Bahkan UKW jenjang Muda dan jenjang Madya PWI di Kota Bangawan ini, pecahkan rekor.

"Ini pecah rekor. UKW tertertib administrasi dan tercepat dalam penerbitan UKW. Satu jam setelah ditutup sertifikat sudah terbit," ungkap dia.(*)

 

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved