Kurs Hari Ini

Kurs Rupiah Menguat 1,57 persen dalam Sepekan, Tutup Rp 15.716 per Dolar AS pada Jumat

Berikut update Kurs Dolar Amerika Serikat (USD) hingga Jumat (26/8/2024). Kurs rupiah menguat 1,57 persen dari posisi Rp 15.925 per dolar AS.

handover
Kurs Rupiah-Dollar AS. Kurs Dolar Amerika Serikat (USD) hingga Jumat (16/8/2024). 

TRIBUNPALU.COM - Berikut update Kurs Dolar Amerika Serikat (USD) hingga Jumat (16/8/2024).

Nilai Tukar Rupiah terhadap dolar AS di pasar spot ditutup menguat ke Rp 15.716 per Dolar AS.

Dalam sepekan, Kurs Rupiah menguat 1,57 persen dari posisi Rp 15.925 per dolar AS, Jumat (9/8/2024).

Bahkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah berhasil menguat di bawah Rp 16.000 per dolar AS, tepatnya Rp 15.952 per dolar AS.

Dolar Melemah terhadap Yen

Dolar AS juga melemah terhadap mata uang lainnya.

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap yen pada hari Jumat 16 Agustsu 2024. 

Dolar melemah 1,04 persen terhadap yen Jepang menjadi 147,75, setelah menyentuh level tertinggi dua minggu di 149,40 pada sesi sebelumnya.

Namun, yen tampak akan mengalami penurunan mingguan terbesar sejak Juni setelah data ekonomi AS meredakan kekhawatiran akan resesi dan mendukung taruhan pemotongan suku bunga secara bertahap.

Penguatan Rupiah

Pengamat Pasar Uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan tren penguatan Rupiah dipengaruhi sentimen eksternal.

Menurutnya, saat ini investor sedang gundah gulana melirik prospek perekonomian Amerika Serikat (AS), seperti tingkat pengangguran yang masih tinggi, juga inflasi yang belum kunjung mereda, sampai ada kekhawatitan bahwa ekonomi AS terancam resesi.

Investor pun mengharapkan Federal Reserve atau The Fed untuk segera menurunkan suku bunga acuan.

“Investor meningkatkan posisinya pada potensi The Fed untuk menurunkan suku bunga setelah pertemuan Bank Sentral AS tersebut secara mendadak pada Rabu pekan lalu,” urainya.
Pada pertemuan tersebut, Gubernur The Fed Jerome Powell mengisyaratkan penurunan suku bunga pada September 2024 dapat terjadi.

Pernyataan tersebut kemudian diikuti rilis data pasar tenaga kerja yang lemah pada hari Jumat pekan yang sama.

Pasar swap memperkirakan penurunan suku bunga The Fed hampir 50 basis poin pada September 2024.

Peran tradisional dolar AS sebagai aset safe-haven akan selalu dapat kembali muncul jika pasar terus goyah atau ancaman geopolitik di Timur Tengah meningkat.

Begitu pula dengan kembalinya fenomena Trump trade, yaitu menaruh dana pada aset seperti dolar AS atau Bitcoin yang dipandang mendapat manfaat dari kebijakan fiskal yang lebih longgar dan tarif yang lebih tinggi jika Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden AS.

Di Asia, para pembuat kebijakan BOJ, yang dirilis pada hari Kamis, menunjukkan bahwa anggota bank sentral masih melihat ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut
Suku bunga harus mencapai sekitar 1 persen untuk mencapai tingkat yang netral bagi perekonomian.

Selain itu, data perdagangan pada hari Rabu terus menggambarkan gambaran ekonomi yang suram, karena surplus perdagangan Tiongkok menyusut jauh lebih banyak dari yang diharapkan pada bulan Juli.

“Ekspor secara tak terduga menyusut setelah Uni Eropa mengenakan tarif tinggi pada kendaraan listrik Tiongkok, sementara impor tembaga dan minyak Tiongkok juga turun tajam,” tukasnya.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved