Selasa, 9 Juni 2026

Idul Adha, Ini Alasan Ulama Anjurkan Kurban Hewan Jantan

Namun, para ulama dan banyak umat Islam lebih mengutamakan hewan jantan. 

Tayang:
Editor: Regina Goldie
TRIBUNNEWS.COM/ANITA K WARDHANI
DAGING HEWAN DAM - Foto pengolahan daging hewan yang disembelih untuk pembayaran Dam atau denda pada jemaah haji Tamatu. PPIH Arab Saudi terbitkan edaran jemaah haji dilarang kunjungi dn melakukan penyembelihan hewan untuk pembayaran Dam atau Hadyu serta kurban. 

TRIBUNPALU.COM - Menjelang perayaan Idul Adha, umat muslim di Indonesia mulai bersiap dengan menyiapkan hewan yang akan dikurbankan.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul setiap tahun adalah alasan di balik anjuran memilih hewan kurban berjenis kelamin jantan.

Dalam ajaran Islam, baik hewan jantan maupun betina diperbolehkan untuk dijadikan kurban, asalkan memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan secara syar’i.

Namun, para ulama dan banyak umat Islam lebih mengutamakan hewan jantan. 

Berikut adalah beberapa alasannya.

Pertama, karena mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW yang menyembelih hewan jantan. 

Dikutip dari laman Baznas, dalam berbagai riwayat hadis, Nabi Muhammad SAW lebih banyak memilih hewan jantan untuk dijadikan kurban. Hal ini menjadi dasar bagi para ulama untuk menganjurkan penggunaan hewan jantan dalam pelaksanaan kurban.

Misalkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Nabi SAW menyembelih dua domba jantan bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan dalam kondisi sehat. 

Kedua, hewan jantan umumnya memiliki fisik yang lebih kuat, kualitas daging yang lebih baik, dan tidak berdampak pada kelangsungan populasi hewan ternak, sehingga lebih disarankan dari sisi praktis dan ekonomi.

Ketiga, hewan jantan dianggap lebih merepresentasikan totalitas dan kesempurnaan dalam berkurban, sebagai simbol pengorbanan terbaik yang dipersembahkan kepada Allah SWT.

Meski demikian, Islam memberikan fleksibilitas kepada umatnya. 

Hewan betina tetap sah dijadikan kurban, selama memenuhi kriteria syar’i, seperti usia yang cukup, kondisi sehat, serta bebas dari cacat. 

Dalam hal ini, nilai kurban tidak berkurang selama dilakukan dengan niat yang ikhlas dan memenuhi ketentuan agama.

Teladan Nabi dalam Membaca Doa Saat Berkurban

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yang jelas dalam setiap aspek ibadah kurban, termasuk dalam membaca doa ketika menyembelih hewan kurban. 

Membaca doa ini merupakan bagian dari sunnah yang sangat dianjurkan dan menjadi pelengkap dari ibadah kurban itu sendiri.

Doa yang dibaca oleh Rasulullah SAW adalah:

"Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma hadza minka wa laka"

Artinya: "Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, (hewan kurban) ini dari-Mu dan untuk-Mu."

Doa ini menunjukkan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi bentuk ketundukan dan penghambaan sepenuhnya kepada Allah. 

Oleh karena itu, membaca doa ini menjadi bentuk kesungguhan dan pengakuan bahwa segala yang dikurbankan adalah milik Allah dan dipersembahkan untuk mencari rida-Nya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved