Jumat, 15 Mei 2026

Sulteng Hari Ini

Kabupaten Buol Alami Kenaikan Stunting Tertinggi di Sulteng 2023–2024

Reny A Lamadjido menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka Stunting sebagai bagian dari janji politik.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
HANDOVER
STUNTING SULTENG - Kabupaten Buol mencatat kenaikan prevalensi Stunting tertinggi di Sulawesi Tengah periode 2023–2024. 

TRIBUNPALU.COM - Kabupaten Buol mencatat kenaikan prevalensi Stunting tertinggi di Sulawesi Tengah periode 2023–2024.

Buol mengalami lonjakan sebesar 6,9 persen dari 30,0 persen menjadi 36,9 persen.

Data ini terungkap dalam rapat koordinasi bertajuk Berani Sinergi Penanggulangan Kemiskinan dan Pencegahan Stunting untuk Membangun Generasi Unggul di Sulawesi Tengah.

Selain Buol, beberapa daerah lain juga mengalami kenaikan prevalensi Stunting, yakni Kabupaten Sigi naik 6,5 persen (dari 26,4 menjadi 32,9 persen), Kota Palu naik 3,5 persen (22,1 ke 25,6 persen), Banggai Laut naik 1,1 persen (25,6 ke 26,7 persen), dan Banggai Kepulauan naik 0,8 persen (27,7 ke 28,5 persen).

Baca juga: Hibah Rp3,5 Miliar dari Pemkab Morowali Dukung Gedung Rehabilitasi Narkoba di Sulteng

Sementara itu, sejumlah daerah menunjukkan penurunan signifikan.

Parigi Moutong berhasil menurunkan prevalensi Stunting sebesar 6,2 persen (dari 28,5 menjadi 22,3 persen), disusul Poso turun 5,4 persen, Tojo Unauna turun 4,7 persen, Donggala turun 4,5 persen, Morowali Utara turun 4,3 persen, dan Morowali turun 3,4 persen.

Parigi Moutong tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah keluarga berisiko Stunting tertinggi, yakni 26.456 keluarga, disusul Donggala dengan 16.821 keluarga, dan Sigi dengan 13.758 keluarga.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadjido, menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka Stunting sebagai bagian dari janji politik.

Baca juga: Cegah DBD Dari Awal, PT CPM Bersama Puskesmas Talise Lakukan Fogging di Tondo Palu

Ia juga menyoroti pentingnya peran wakil kepala daerah dalam percepatan penurunan Stunting.

“Suka tidak suka, kita para wakil kepala daerah adalah Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Mau tidak mau, kita harus tahu dan paham betul tentang Stunting. Ini adalah tanggung jawab fungsi kita,” ujar Reny di hadapan para Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota yang hadir.

Ia menambahkan, kerja kolektif lintas sektor sangat krusial dalam menurunkan angka Stunting di daerah.

“Rencana sebaik apa pun tidak akan berdampak kalau tidak didukung tenaga kesehatan, BKKBN, dinas teknis, cipta karya, pertanian, hingga tokoh agama dan kader masyarakat,” tandasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved