Pelaku Teror Penembakan di Christchurch Selandia Baru Hadapi Dakwaan Baru

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Brenton Tarrant, pelaku teror penembakan Selandia Baru saat jalani sidang perdananya.

Pada Selasa (2/4/2019), aparat penegak hukum Selandia Baru mengadakan voting atas undang-undang senjata baru setelah teror yang tragis tersebut.

Undang-undang yang baru melarang penjualan senjata semi otomatis gaya militer, tipe senjata yang sama yang digunakan oleh Brenton Tarrant.

Selama sidang sebelumnya, Brenton Tarrant sempat 'nyengir' kepada awak media dan melakukan gestur gestur "OK" menggunakan tangannya.

Daily Mirror memberitakan, gestur yang dibuat oleh pria berusia 28 tahun tersebut merupakan simbol dari supremasi kulit putih.

Atas perintah hakim, awak media yang mengambil gambar wajah Tarrant harus memburamkannya sebelum mempublikasikan kepada khalayak.

Selama persidangan berlangsung, dia hanya terdiam dan kembali menjalani sidang di Pengadilan Tinggi pada 5 April 2019 besok.

Pascateror penembakan di Christchurch, warga dan pemerintah Selandia Baru pun terus memberikan penghormatan kepada para korban.

Setelah para warga secara sukarela menjaga orang-orang muslim yang beribadah di Selandia Baru, kini parlemen Selandia Baru, melakukan penghormatan dalam bentuk berbeda, mengutip laman TribunNews.com.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sidang parlemen dibuka dengan pembacaan Al Quran.

Setelah itu, pihak parlemen Selandia Baru juga meminta agar doa mengawali sidang, dilakukan dengan doa Islam.

Dilansir media Inggris The Independent, tradisi pembacaan Al Quran di sidang parlemen ini merupakan kali pertama dalam sejarah Selandia Baru.

Dalam sidang tersebut, seorang imam, bernama Imam Nizam ul Haq Thanvi, membaca nukilan surat Al Baqarah.

(TribunPalu.com/Rizki A. Tiara)