Sri Lanka Sebut Teror Bom Paskah Lalu Adalah 'Balas Dendam' Atas Penembakan di Selandia Baru

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suasana pasca teror bom meledak di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019).

Sebab, tampaknya mereka telah mengantisipasi potensi adanya serangan, tetapi gagal menghentikannya.

Wakil inspektur jenderal kepolisian Sri Lanka, Priyalal Disanayaka, mengatakan kepada badan keamanan Sir Lanka pada 11 April bahwa serangan terhadap "beberapa gereja penting" dari kelompok ekstremis sudah dekat, AP melaporkan.

Pada Selasa (23/4/2019), Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan ia akan mengadakan penyelidikan mengapa badan-badan yang terkait tidak bertindak atas informasi tersebut.

Dia mengatakan bahwa jika mereka telah mengantisipasi, kemungkinan banyak nyawa yang bisa diselamatkan atau serangan teror tersebut dicegah.

Rosie Perper dari INSIDER sebelumnya melaporkan bahwa serangan hari Minggu (21/4/2019) lalu adalah tindakan terorisme besar pertama di Sri Lanka sejak perang saudara yang berakhir hampir 10 tahun yang lalu, setelah kekalahan kelompok militan Macan Tamil.

Namun, di Sri Lanka memang telah terjadi beberapa kasus kekerasan agama pada tahun-tahun setelah perang saudara tersebut.

Pada Maret 2018, Sri Lanka mendeklarasikan keadaan darurat 10 hari ketika bentrokan antara komunitas Muslim dan Budha mencapai puncaknya.

Pasca teror pengeboman Paskah, Sri Lanka untuk sementara waktu melarang situs-situs media sosial utama, tindakan yang juga dilakukan pada Maret 2018.

Sri Lanka memiliki sektor pariwisata yang sedang naik daun, dan Lonely Planet menamainya sebagai tempat nomor 1 untuk berwisata pada 2019.

Insiden teror serangan bom ini tentu juga berpengaruh pada dunia pariwisata Sri Lanka.

(TribunPalu.com/Rizki A. Tiara)

Berita Terkini