Virus Corona

Fang Bin dan Chen Qiushi, Jurnalis Dikabarkan Hilang Setelah Ungkap Kondisi Wuhan saat Wabah Corona

Fang Bin dan Chen Qiushi

TRIBUNPALU.COM - Wabah virus corona jenis baru atau COVID-19 menjadi perhatian publik dunia sejak awal tahun 2020 silam.

Wabah virus tersebut kabarnya pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China pada Desember 2019.

Hingga kini, tercatat sudah ada lebih dari 60 ribu kasus virus corona yang terjadi di berbagai negara.

Di samping itu, wabah virus corona juga disebut telah menyebabkan kematian yang mencapai jumlah 1.500 jiwa.

Kasus wabah virus mematikan ini pun menimbulkan keresahan bagi berbagai pihak.

Hadapi Wabah Virus Corona, China Buat Aplikasi Close Contact Detector

Kabur dari Karantina Virus Corona, Wanita Asal Rusia Digugat oleh Pihak Otoritas Kesehatan

Tidak berhenti sampai di situ, publik kembali dibuat gempar dengan kabar menghilangnya dua orang jurnalis di Wuhan, China.

Mereka adalah Fang Bin dan Chen Qiushi, dua orang citizen journalist atau jurnalis warga yang disebut telah berani mengungkapkan kondisi sebenarnya dari Kota Wuhan pasca virus corona merebak.

Kini, tidak ada yang benar-benar tahu keberadaan dari kedua jurnalis itu.

Banyak pihak yang berspekulasi jika menghilangnya kedua orang itu karena 'diculik' oleh pihak berwajib.

Lalu, siapakah sebenarnya sosok Fang Bin dan Chen Qiushi dan apa yang telah mereka lakukan hingga akhirnya 'menghilang'?

Berikut ini TribunPalu.com telah merangkum profil singkat dari kedua citizen journalist itu dari laman BBC.

 Fang Bin: sempat ditangkap dan dibebaskan sebelum menghilang

Fang Bin merupakan seorang pengusaha asal Wuhan, China.

Ia diketahui pertama kali mengunggah video mengenai wabah virus corona pada 25 Januari 2020 ke YouTube.

Dirinya mengaku bertekad untuk dapat melaporkan situasi yang sebenarnya terjadi di Wuhan terkait dengan wabah virus corona yang tengah merebak itu.

Fang Bin (BBC)

Mulanya, video yang diunggah banyak menampilkan dirinya berkendara keliling Kota Wuhan sembari memperlihatkan situasi dari sejumlah sudut kota.

Hingga kemudian pada 1 Februari 2020, ia membagikan sebuah video yang cukup menarik perhatian banyak orang.

Video yang telah ditonton sebanyak 200 ribu kali itu menampilkan tumpukan 8 mayat di dalam minibus yang berada di luar sebuah rumah sakit di Wuhan.

Fang Bin mengatakan bahwa polisi datang ke rumahnya dan menginterogasinya atas video tersebut.

Tidak hanya itu, ia juga sempat ditangkap dan diberi peringatan sebelum akhirnya dibebaskan oleh pihak kepolisian.

Namun, pada 9 Februari 2020, ia mengunggah sebuah video berdurasi 13 detik yang menampilkan tulisan 'semua orang memberontak - menyerahkan kekuasaan pemerintah kembali kepada rakyat.'

Setelah itu, akun milik Fang Bin tidak aktif kembali.

Jurnalis China Hilang Seusai Sebar Rekaman Tentang Tumpukan Mayat Korban Corona di Wuhan, Diculik?

Dokter yang Peringatkan Virus Corona Tewas, Muncul Surat Terbuka Tuntut Kebebasan Berpendapat

Chen Qiushi: berkeliling kota Wuhan dan melaporkan situasi yang semakin memburuk

Chen Qiushi merupakan seorang mantan pengacara hak asasi manusia yang beralih menjadi video journalist.

Namanya juga disebut tidak asing di kalangan para aktivis.

Chen mulai dikenal setelah meliput kerusuhan yang terjadi di Hong Kong pada Agustus 2019 lalu.

Ia menduga, liputannya itu membuatnya mendapat kecaman dan tekanan dari pihak otoritas China setelah dirinya kembali.

Tidak hanya itu, akun media sosialnya yang telah memiliki lebih dari 700 ribu follower juga dihapus.

Namun, Chen tidak diam begitu saja.

Ia membuat akun YouTube pada Oktober 2019 lalu dan kini telah memiliki 400 ribu subscriber.

Chen Qiushi (BBC)

Kemudian pada bulan Januari ia mulai mengelilingi kota Wuhan untuk melaporkan situasi yang semakin memburuk.

"Saya akan menggunakan kamera saya untuk merekam apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji saya tidak akan menutupi kebenaran," ujarnya dalam video pertamanya di YouTube.

Chen mengunjungi sejumlah rumah sakit di Wuhan dan memperlihatkan bagaimana kondisi di sana serta berbicara dengan para pasien.

Meski begitu ia mengaku sadar bahwa apa yang dilakukannya itu dapat membahayakan dirinya.

Dirinya pun tidak terlalu yakin seberapa lama ia dapat melanjutkan aksinya itu.

"Aturan sensor sangat ketat dan bahkan sejumlah akun ditutup jika mereka membagikan kontenku," ungkap Chen.

Hingga akhirnya pada 7 Februari 2020 lalu, sebuah video dibagikan melalui akun Twitternya.

Video itu rupanya dibuat oleh teman dan ibunya yang mengatakan bahwa Chen telah menghilang.

Temannya yang bernama Xu Xiaodong kemudian mengatakan adanya dugaan bahwa Chen telah dikarantina secara paksa.

Pria Asal China Tertular Virus Corona Setelah Bertemu Pasien yang Terinfeksi Selama 15 Detik

Ahli Asal China Sebut Pasien Virus Corona Masih Bisa Kembali Terinfeksi Setelah Dinyatakan Sembuh

Pihak otoritas China masih bungkam terkait hilangnya dua jurnalis tersebut

Berdasarkan laporan BBC pada 14 Februari 2020, dinyatakan bahwa pihak otoritas China masih bungkam atas kabar menghilangnya Fang Bin dan Chen Qiushi.

Selain itu, juga tidak ada pernyataan resmi terkait keberadaan kedua jurnalis tersebut.

Seorang peneliti dari Amnesty International, Patrick Poon mengatakan, hingga kini belum jelas apakah kedua jurnalis itu ditangkap oleh pihak kepolisian atau dikarantina secara paksa.

Meski begitu, ia menyebut bahwa seharusnya pihak otoritas memberikan kejelasan kepada keluarga keduanya.

"Pemerintah China seharusnya memberikan informasi kepada keluarga mereka dan memberikan mereka akses untuk pengacara pilihan mereka. Jika tidak, maka merupakan hal yang wajar jika muncul kekhawatiran adanya tindak kekerasan atau perlakuan buruk lainnya," ungkapnya.

(TribunPalu.com/Clarissa Fauzany)

Penulis: Clarissa Fauzany Priastuti
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribun Palu

Berita Populer