Teroris MIT Poso

Danrem Tadulako Sebut Kelompok Teror di Poso Tak Layak Mengatasnamakan Mujahidin

Penulis: fandy ahmat
Editor: mahyuddin
Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf (kanan) bersama Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso (kiri)

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf menyebut pelaku teror di Kabupaten Poso dan sekitarnya tidak pantas mengatasnamakan mujahidin. 

"Saya tidak menganggap kelompok itu para mujahidin seperti yang mereka klaim selama ini. Bagi saya mereka itu penjahat teroris," ujar Farid melalui rilis tertulisnya, Sabtu (14/8/2021). 

Mujahidin adalah istilah dalam agama Islam yang merujuk pada sikap seorang Muslim yang berjuang di jalan Allah dalam suatu peperangan atau pergolakan. 

Brigjen Farid menilai, tindakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso justru bertentangan dengan prinsip jihad dalam Islam. 

"Mujahidin ini sebutan mulia dan hanya diberikan kepada para mujahid yang rela mati demi mempertahankan bangsa dan negara. Sementara mereka (MIT) itu terbalik. Membenarkan cara-cara kiriminal dengan membunuh orang-orang tak bersalah," tegasnya. 

Baca juga: Tiga Jenderal Sisir Hutan Buru 6 DPO Teroris Poso yang Tersisa

Baca juga: DPO Teroris Poso Tersisa 6 Orang, Satgas Madago Raya Pajang Foto Mereka di Pinggir Jalan

Belum lama ini, prajurit TNI-Polri tergabung dalam Operasi Madago Raya berhasil menewaskan satu pentolan MIT bernama Qatar alias Farel alias Anas. 

Qatar tewas tertembak usai terlibat kontak senjata di Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 11 Juli 2021 lalu.

Qatar diduga kuat sebagai pelaku pembantaian satu keluarga di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi dan empat petani di Desa Kalimago, Kabupaten Poso, beberapa waktu lalu. 

Ia juga berperan sebagai pimpinan lain di tubuh kelompok MIT selain Ali Kalora. 

Dengan tewasnya Qatar alias Farel alias Anas, kini tersisa Ali Kalora sebagai pimpinan tunggal MIT beranggotakan 5 orang. 

Mereka adalah Askar alias Jaid alias Pak Guru, Nae Alias Galuh alias Mukhlas, Suhardin alias Hasan Pranata, Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang dan Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama.(*)