Selasa, 21 April 2026

Doa Penutup Ramadan 2026: Mohon ke Allah WST Agar Puasa Ramadan Diterima

Doa penutup Ramadan yang dibaca di hari terakhir ramadan, berisi permohonan kepada Allah SWY agar menerima ibadah puasa

Editor: Imam Saputro
aboutislam.net
Ilustrasi berdoa -Doa penutup Ramadan yang dibaca di hari terakhir ramadan, berisi permohonan kepada Allah SWY agar menerima ibadah puasa yang sudah dilakukan dan dipertemukan lagi dengan ramadan tahun depan. 

TRIBUNPALU.COM - Doa penutup Ramadan yang dibaca di hari terakhir ramadan, berisi permohonan kepada Allah SWY agar menerima ibadah puasa yang sudah dilakukan dan dipertemukan lagi dengan ramadan tahun depan.

Ramadan 2026 akan berahir pada Jumat 20 Maret 2026 dan memasuki 1 Syawal pada Sabtu 2026.

Umat muslim bisa membaca doa berikut ini agar puasa sebelumnya diterima.

Juga berisi permohonan untuk bisa dipertemukan lagi dengan ramadan tahun depan.

Doa Ramadan Hari ke-30

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَالْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَيَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالْأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allahummaj-'al shiyami fihi bisy-syukri wal-qabuli 'ala ma tardhahu wa yardhahur-rasulu muhkamatan furu'uhu bil-ushuli bihaqqi sayyidina Muhammadin wa alihith-thahirin, walhamdu lillahi rabbil-'alamin.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah puasaku di bulan ini sebagai puasa yang diterima dan disyukuri, sesuai dengan keridhaan-Mu dan keridhaan Rasul-Mu. Kokohkanlah cabang-cabangnya pada pokoknya, demi kebenaran junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya yang suci. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Doa Akhir Ramadan

Ulama mengajarkan membaca doa di hari akhir Ramadan:

اللهم لا تجعله آخر العهد من صيامنا إياه، فإن جعلتَه فاجعلني مرحومًا، ولا تجعلني محرومًا

Allahuma laa taj'alhu aakhiril'ahdi min shiyaminaa iyyaahu, fain ja'altahu faj'alnii marhuuman walaa taj'alnii mahruuman.

Artinya:
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadan ini Bulan Ramadan terakhir dalam hidupku.
Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadan terakhir bagiku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku orang yang Engkau murkai.

Teks Takbiran

Teks takbiran Idul Fitri 2026 lengkap dengan tulisan arab, latin beserta artinya.

Takbiran dilaksanakan mulai bakda (setelah) Magrib di hari terakhir ramadan sampai 1 Syawal selesai.

Bacaan takbiran Idul Fitri 1447 H/2026 dengan versi pendek dan panjang.

Bacaan Takbir Idul Fitri Sesuai Tuntunan Nabi Serta Dalil dan Waktunya

Teks Takbiran Idul Fitri Versi Pendek

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Latin:

Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

Artinya:

"Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah."

Baca juga: Resep Opor Ayam untuk Sajian Lebaran Idulfitri 2026: Resep untuk 1 Ekor Ayam dengan Kuah Kental

Teks Takbiran Idul Fitri Versi Panjang

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.

Artinya, "Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya

Kemudian ditambahkan zikir sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Allahu akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu mukhlishina lahud dana wa law karihal kafirun, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wallahu akbar.

Artinya, "Allah maha besar dengan segala kebesaran, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.

Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah".

Adapun bacaan dzikir tambahan dalam takbiran Idul Fitri merupakan dzikir takbir Rasulullah SAW di bukit Shafa yang diriwayatkan Imam Muslim.

Baca juga: Cara Membuat Ketupat Lebaran Idul Fitri 1447H Agar Lembut, Tidak Bantet, dan Tidak Mudah Basi

Waktu Mengumadangkan Takbiran Idul Fitri 1447 H

Berdasarkan kitab Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272) takbiran dilakukan di malam Hari Raya.

Takbiran Idul Fitri dimulai sejak matahari terbenam pada malam Ied, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib.

Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat Ied. 

Yakni ketika orang-orang mulai shalat Ied, maka selesailah waktu takbir Idul Fitri.

Takbir merupakan salah satu syiar agung dalam menyambut hari kemenangan Idul Fitri. 

Amalan ini dianjurkan untuk dikumandangkan secara berjamaah di berbagai tempat, seperti masjid, pasar, hingga jalanan. 

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-Umm mengatakan, "Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman di bulan Ramadan, ‘‘Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (SQ. Al-baqarah: 185)

Maka saya mendengarkan orang yang paling saya ridai dari kalangan ahli qur’an mengatakan, "Mencukupkan bilangannya, maksudnya bilangan puasa bulan Ramadan. Dan mengagungkan Allah ketika telah sempurna atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. Sempurnanya adalah dengan terbenamnya matahari di hari terakhir di bulan Ramadan."

Kemudian Syafi’i rahimahullah mengatakan, "Orang yang di tinggal (tengah jalan) dan orang yang safar ketika mereka melihat hilal bulan Syawwal. Saya senang orang-orang bertakbir baik secara kelompok maupun sendiri-sendiri. Di masjid, pasar maupun di jalan-jalan. Sementara orang yang bermukim, (bertakbir) pada setiap kondisi, dan dimana saja mereka berada. Agar kalimat takbir menggema. Takbir hendaknya terus dikumandangkan  hingga berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar untuk shalat, saat itu takbir dihentikan."

Diriwayatkan dari Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Salamah, Abu Bakar bin Abdurrahkan radhiallahu’anhum biasanya mereka bertakbir malam Idul Fitri di Masjid dengan mengeraskan suara takbir. 

Dan dari Urwah bin Zubair dan Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa keduanya biasanya mengeraskan takbir ketika berangkat ke tempat shalat.

Dari Nafi’ bin Jubair biasanya beliau mengeraskan takbir ketika berangkat ke tempat shalat pada hari Id.

Terdapat riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, "biasanya beliau berangkat ke tempat shalat pada hari raya Idul Fitri ketika matahari terbit. Beliau terus bertakbir hingga tiba di tempat shalat Id. Di tempat shalat, beliau tetap bertakbir hingga imam duduk. Ketika itu beliau meninggalkan takbir."

(TribunPalu/Tribunnews)

 

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved