Warga Sigi Diduga Tewas Terlilit Ular
Warga Sigi Tewas Diduga Diterkam Ular, Ketua Evolux IDN Ingatkan Waspada Saat Berkebun
Potensi perjumpaan antara manusia dan ular tidak dapat sepenuhnya dihindari, meskipun kewaspadaan telah dilakukan.
Penulis: Andika Satria Bharata | Editor: Fadhila Amalia
Ringkasan Berita:
- Warga Desa Bangga, Sukri (46), meninggal saat berkebun, diduga diserang ular piton di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.
- Ular piton Sulawesi berukuran besar dan dapat menyerang manusia, terutama di habitat alaminya seperti kebun, semak, dan tumpukan daun kering.
- Ahli satwa, Youssel Panggabean, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memahami perilaku satwa liar untuk mencegah kejadian serupa.
Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata
TRIBUNPALU.COM, SIGI – Ketua Evolux IDN Indonesia, Youssel Edbert Daniel Panggabean, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun, menyusul meninggalnya Sukri (46), warga Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ditemukan meninggal dunia di area kebun dan diduga akibat serangan ular.
Peristiwa tragis tersebut terjadi saat korban berada di kebun dan rencananya akan dijemput oleh keluarga setelah waktu Magrib, pada Rabu (28/1/2026).
Namun hingga waktu yang ditentukan, korban tidak kunjung kembali.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Jumat 30 Januari 2026, Emas Antam Anjlok ke Rp 3,12 Juta Per Gram
Pihak keluarga bersama warga kemudian melakukan pencarian dan menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa, sehingga menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Kabar meninggalnya Sukri dengan cepat menyebar melalui media sosial dan menuai berbagai respons dari warganet.
Ungkapan belasungkawa dan doa terus mengalir, khususnya ditujukan kepada istri almarhum, Anisa Hardi, agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.
Menanggapi kejadian itu, Youssel Edbert Daniel Panggabean berdomisili di Kota Palu dan aktif di bidang konservasi satwa, khususnya reptil, menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga korban.
“Pertama-tama kami turut berduka cita atas musibah yang menimpa korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Youssel, menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada pihak keluarga, ditemui Tribunpalu.com, Jumat (30/1/2026),
Baca juga: Program WE NEXUS Perkuat Peran Perempuan, 6 Desa di Sigi Jadi Ramah Perempuan dan Peduli Anak
Ia menjelaskan, dugaan keterlibatan ular piton dalam kejadian tersebut cukup masuk akal jika melihat karakteristik ular piton di wilayah Sulawesi.
Menurutnya, ular piton di dataran Sulawesi dan kepulauan utama dikenal memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan daerah lain.
“Ular piton di Sulawesi bisa berukuran sangat besar. Dalam kondisi tertentu, manusia dapat menjadi mangsa, terutama jika berada di habitat alaminya,” jelasnya, memaparkan potensi ukuran ular piton disulawesi dapat memiliki, ukuran tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan daerah lain.
Youssel Edbert Daniel Panggabean menegaskan bahwa area kebun pada dasarnya merupakan bagian dari habitat satwa liar.
Oleh karena itu, potensi perjumpaan antara manusia dan ular tidak dapat sepenuhnya dihindari, meskipun kewaspadaan telah dilakukan.
“Habitat satwa yang kemudian dimanfaatkan sebagai kebun membuat risiko itu selalu ada. Di mana pun berada, kejadian serupa bisa terjadi,” katanya, mengungkapkan kebun sebelumnya adalah Habitat satwa.
Ia mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat berkebun, khususnya di area yang banyak terdapat tumpukan daun kering, semak-semak, serta lokasi yang jarang dilalui manusia karena berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.
Baca juga: Raker FTIK UIN Datokarama Palu di Sigi Fokus Akselerasi Kelembagaan dan Daya Saing Global
Selain itu, Youssel juga menjelaskan bahwa banyaknya hewan herbivora atau pengerat di suatu wilayah dapat menjadi indikator keberadaan predator di rantai makanan, termasuk ular.
“Jika di suatu wilayah banyak hewan pengerat, maka predator di atasnya pasti ada. Ular biasanya menjadi lebih agresif saat lapar atau ketika berada dalam kondisi terdesak,” tambahnya.
Ia berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat agar lebih memahami risiko aktivitas di alam terbuka serta meningkatkan pengetahuan dasar mengenai perilaku satwa liar, guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Evolux-Project-Petakan-29-Spesies-Ular-dan-Ekotipe-Unik-di-Sigi-Hingga-Lembah-Palu.jpg)