Jumat, 10 April 2026

Ramadan 2026

Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 H, MUI Palu Ajak Umat Kedepankan Tasamuh

Baik metode rukyatul hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.

Penulis: Supriyanto | Editor: Regina Goldie
Handover
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. Zainal Abidin. 
Ringkasan Berita:
  • Prof. Zainal Abidin, Ketua MUI Kota Palu, menyampaikan pandangannya mengenai penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.
  • Ia mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan tasamuh (toleransi), dan menghormati perbedaan pendapat.
  • Metode rukyatul hilal dan hisab memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok

TRIBUNPALU.COM, PALU - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof Zainal Abidin, menyampaikan pandangannya terkait penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Ia mengajak umat Islam untuk bersikap bijak, mengedepankan tasamuh (toleransi), serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Baik metode rukyatul hilal maupun hisab memiliki dasar dan argumentasi masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i.

Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan telah lama menjadi bagian dari dinamika keilmuan Islam.

Baca juga: Kode Redeem FF Free Fire Rabu 18 Februari 2026, Ada AK47 Blue Flame Draco dan Skin M1887 OPM

"Perbedaan pandangan dan metode sering terjadi di kalangan ulama maupun pemerintah. Itu adalah bagian dari ijtihad. Karena itu, umat Islam harus dewasa dalam menanggapi setiap penetapan yang ada," kata Prof. Zainal Abidin, Selasa (17/2/2026).

Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak perlu dijadikan batu sandungan dalam membangun persaudaraan.

Perbedaan pandangan dan pemikiran, kata dia, justru dapat menjadi kekayaan intelektual dan keilmuan Islam serta menjadi instrumen pemersatu apabila disikapi dengan saling menghormati dan menghargai.

"Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan dalam kebersamaan. Intinya adalah tasamuh dan saling menghargai," tegasnya.

Ia juga mengimbau umat Islam di mana pun berada agar tidak mudah terprovokasi oleh isu dan narasi yang dapat memperuncing perbedaan, terutama di ruang publik dan media sosial.

"Kedepan, mari kita kedepankan sikap tasamuh dan saling menghargai. Dengan begitu, kita dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved