Jumat, 17 April 2026

Parigi Moutong Hari Ini

Mengenal Labol, Kuliner Khas Pantai Timur Parigi Moutong Berbahan Sagu

Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan colo-colo atau sambal yang disiram perasan jeruk nipis, menambah sensasi segar saat disantap.

|
Penulis: Robit Silmi | Editor: Fadhila Amalia
TribunPalu.com/Robit/Robit Silmi
MAKANAN KHAS - Labol, makanan khas berbahan sagu dari Pantai Timur Parigi Moutong, disajikan dengan topping ikan dan sambal colo-colo, menjadi kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. 
Ringkasan Berita:
  • Labol adalah kuliner tradisional khas Pantai Timur Parigi Moutong berbahan dasar sagu dan kelapa parut, dimasak dengan tungku tradisional menggunakan api kayu.
  • Labol memiliki beragam topping seperti gula merah, ikan, dan kerang (eon), serta biasanya disajikan dengan colo-colo atau sambal jeruk nipis, dengan tekstur tebal, lembek, dan sedikit kenyal.
  • Penjual labol umumnya “ina-ina” di Bolano dan Bolano Lambunu, menjaga tradisi kuliner ini tetap hidup dari generasi ke generasi.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi

TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG - Masyarakat di wilayah Pantai Timur Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memiliki kuliner tradisional khas berbahan dasar sagu dikenal dengan sebutan labol atau labole.

Di Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, makanan ini cukup populer dan menjadi hidangan khas yang masih bertahan hingga kini.

Labol dibuat dari sagu yang dicampur dengan kelapa parut, kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional. 

Baca juga: Harga iPhone Akhir Maret 2026: iPhone 17e, iPhone 17, iPhone 16, iPhone 15, iPhone 14, iPhone 13

Proses memasak dengan api kayu membuat cita rasa labol lebih nikmat dan khas.

Makanan ini memiliki beberapa varian topping, di antaranya gula merah, ikan, serta eon atau kerang. 

Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan colo-colo atau sambal yang disiram perasan jeruk nipis, menambah sensasi segar saat disantap.

Secara tekstur, labol memiliki ciri khas tebal, lembek, dan sedikit kenyal atau “molor”. 

Hal ini yang membedakannya dengan jepa yang dikenal di wilayah Kota Palu, yang cenderung tipis dan renyah.

Menariknya, makanan serupa juga ditemukan di daerah lain dengan sebutan berbeda. 

Baca juga: Festival Raudhah 2026: Kuliner, Kerajinan dan Seni Budaya Meriahkan Kota Palu

Masyarakat Tolitoli menyebutnya amdal, yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan labol, baik dari bahan maupun cara pengolahan.

Di wilayah Bolano, penjual labol umumnya adalah para ibu-ibu yang akrab disapa “ina-ina”. 

Mereka menjajakan labol sebagai bagian dari tradisi kuliner yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved