Parigi Moutong Hari Ini
Mengenal Labol, Kuliner Khas Pantai Timur Parigi Moutong Berbahan Sagu
Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan colo-colo atau sambal yang disiram perasan jeruk nipis, menambah sensasi segar saat disantap.
Penulis: Robit Silmi | Editor: Fadhila Amalia
Ringkasan Berita:
- Labol adalah kuliner tradisional khas Pantai Timur Parigi Moutong berbahan dasar sagu dan kelapa parut, dimasak dengan tungku tradisional menggunakan api kayu.
- Labol memiliki beragam topping seperti gula merah, ikan, dan kerang (eon), serta biasanya disajikan dengan colo-colo atau sambal jeruk nipis, dengan tekstur tebal, lembek, dan sedikit kenyal.
- Penjual labol umumnya “ina-ina” di Bolano dan Bolano Lambunu, menjaga tradisi kuliner ini tetap hidup dari generasi ke generasi.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi
TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG - Masyarakat di wilayah Pantai Timur Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memiliki kuliner tradisional khas berbahan dasar sagu dikenal dengan sebutan labol atau labole.
Di Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, makanan ini cukup populer dan menjadi hidangan khas yang masih bertahan hingga kini.
Labol dibuat dari sagu yang dicampur dengan kelapa parut, kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional.
Baca juga: Harga iPhone Akhir Maret 2026: iPhone 17e, iPhone 17, iPhone 16, iPhone 15, iPhone 14, iPhone 13
Proses memasak dengan api kayu membuat cita rasa labol lebih nikmat dan khas.
Makanan ini memiliki beberapa varian topping, di antaranya gula merah, ikan, serta eon atau kerang.
Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan colo-colo atau sambal yang disiram perasan jeruk nipis, menambah sensasi segar saat disantap.
Secara tekstur, labol memiliki ciri khas tebal, lembek, dan sedikit kenyal atau “molor”.
Hal ini yang membedakannya dengan jepa yang dikenal di wilayah Kota Palu, yang cenderung tipis dan renyah.
Menariknya, makanan serupa juga ditemukan di daerah lain dengan sebutan berbeda.
Baca juga: Festival Raudhah 2026: Kuliner, Kerajinan dan Seni Budaya Meriahkan Kota Palu
Masyarakat Tolitoli menyebutnya amdal, yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan labol, baik dari bahan maupun cara pengolahan.
Di wilayah Bolano, penjual labol umumnya adalah para ibu-ibu yang akrab disapa “ina-ina”.
Mereka menjajakan labol sebagai bagian dari tradisi kuliner yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)
| Pemkab Parigi Moutong Siapkan Seleksi JPT Pratama, Kesempatan Emas bagi ASN Berkompeten |
|
|---|
| Ketua Komisi III DPRD Soroti Minimnya Anggaran DLH, Langkah Mitigasi di Parimo Dinilai Lemah |
|
|---|
| Warga Sausu Peore Parigi Moutong Keluhkan Jembatan Rusak, Tak Kunjung Diperbaiki |
|
|---|
| Duel Sajam di Empang Malakosa Parigi Moutong, Petani 59 Tahun Meregang Nyawa |
|
|---|
| Penyelidikan PETI di Parigi Moutong Dilanjutkan, Polda Sulteng Kejar Pemodal Tambang Emas Ilegal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Mengenal-Labol-Kuliner-Khas-Pante-Timur-Parigi-Moutong-Berbahan-Sagu.jpg)