Paskah Nasional FUKRI Sulteng
Visi Besar Paskah Nasional V: Satukan Denominasi, Perkuat Persaudaraan Umat
Dalam proses menyatukan berbagai pihak, Samuel mengandalkan komunikasi intens dengan pimpinan gereja di Sulawesi Tengah.
Penulis: Andika Satria Bharata | Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
- Paskah Nasional V Tahun 2026 di Sulawesi Tengah dijadikan momentum untuk menyatukan berbagai denominasi gereja dalam semangat kebersamaan, di bawah naungan Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI).
- Wakil Bupati Sigi, Samuel Yasen Pongi, menekankan pentingnya komunikasi intens dengan pimpinan gereja dan mencatat dukungan dari tokoh lintas agama di Palu sebagai wujud toleransi yang tinggi.
Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata
TRIBUNPALU.COM, PALU - Paskah Nasional V Tahun 2026 di Sulawesi Tengah tidak sekadar menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga momentum besar untuk menyatukan berbagai denominasi gereja dalam satu semangat kebersamaan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sigi, Samuel Yasen Pongi, dalam podcast TribunPalu.com bersama Motesa Tesa, yang digelar di Jalan Jl. Emmy Saelan, Tatura Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (12/4/2026).
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini berada di bawah naungan Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) yang menghimpun berbagai aras gereja.
“Ini kesempatan untuk tidak lagi mengkotak-kotakkan denominasi. Kita satu dalam bingkai FUKRI,” ujarnya.
Baca juga: Wabup Sigi Ceritakan Proses Penunjukan sebagai Ketua Pelaksana Paskah Nasional V 2026
Menurutnya, contoh persatuan telah ditunjukkan di tingkat pusat, sehingga daerah juga harus mampu menghadirkan semangat yang sama.
Dalam proses menyatukan berbagai pihak, Samuel mengandalkan komunikasi intens dengan pimpinan gereja di Sulawesi Tengah.
Yang menarik, dukungan juga datang dari tokoh lintas agama di Kota Palu seperti Habib Alwi, KH Husein Habibu, hingga Prof. Zainal Abidin.
“Ini menjadi surprise bagi kami. Toleransi di Sulawesi Tengah sangat luar biasa,” katanya.
Ia menilai keterlibatan berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa Paskah Nasional bukan hanya milik satu kelompok, tetapi menjadi ruang kebersamaan lintas umat. (*)