Rabu, 27 Mei 2026

DPR RI

HUT ke-76 PGI, Matindas J Rumambi Ajak Gereja Jadi Terang dan Tangguh Hadapi Polikrisis Global

Gereja-gereja di Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan nyata yang membutuhkan ketangguhan iman dan aksi nyata secara oikoumenis.

Tayang:
Editor: Fadhila Amalia
Handover
HUT PGI - Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Matindas J Rumambi, menyampaikan ucapan selamat hari ulang tahun ke-76 kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi VIII DPR RI Matindas J Rumambi mengucapkan selamat HUT ke-76 kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan mengajak gereja memperkuat komitmen kebangsaan.
  • Matindas menilai gereja harus aktif menghadapi tantangan polikrisis global seperti krisis ekonomi, perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga disrupsi teknologi.
  • Ia mendorong gereja memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat, meningkatkan kepedulian lingkungan, dan terus menjadi perekat persatuan bangsa.

TRIBUNPALU.COM - Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Matindas J Rumambi, menyampaikan ucapan selamat hari ulang tahun ke-76 kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Di tengah momentum bersejarah ini, legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tengah tersebut mengajak seluruh elemen gereja di bawah naungan PGI untuk memperkuat komitmen kebangsaan, merawat keberagaman, serta aktif berkontribusi mengatasi tantangan polikrisis global.

"Selama 76 tahun, sejak didirikan pada 25 Mei 1950, PGI telah membuktikan peran strategisnya sebagai wadah keesaan yang konsisten merajut persaudaraan di tengah pluralisme bangsa. Dirgahayu ke-76 PGI, teruslah bergerak membawa damai sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Matindas.

Baca juga: Anji Manji Menikah Lagi, Ini Sosok Istri Barunya Desmiliana Ariyana, Berdarah Batak

Sebagai anggota Komisi VIII yang membidangi urusan keagamaan dan sosial, Matindas menekankan pentingnya aktualisasi tema pelayanan PGI, yakni "Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran".

Menurutnya, gereja-gereja di Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan nyata yang membutuhkan ketangguhan iman dan aksi nyata secara oikoumenis.

"PGI kini menaungi lebih dari 105 sinode gereja yang menjangkau masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Kekuatan masif ini harus dioptimalkan untuk menjawab krisis-krisis modern, mulai dari krisis kebangsaan, degradasi keluarga, ketimpangan pendidikan, ancaman ekologis akibat perubahan iklim, hingga kesiapan menghadapi guncangan teknologi kecerdasan buatan," tutur Ketua DPD PDIP Sulteng tersebut.

Ia menambahkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi situasi polikrisis global, yakni kondisi ketika berbagai krisis terjadi secara bersamaan dan saling memengaruhi, seperti konflik geopolitik, tekanan ekonomi, krisis pangan dan energi, perubahan iklim, disrupsi digital, hingga menurunnya solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Menanggapi situasi tersebut, gereja didorong untuk tidak hanya berfokus pada pelayanan internal, melainkan melangkah keluar menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.

Baca juga: Pasar Murah DPKP Palu Sediakan 20 Komoditas Pangan Strategis, Cek Harga dan Stoknya

Menurut Matindas, gereja harus hadir sebagai terang yang memberi harapan dan membangun ketangguhan sosial masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Ia menjelaskan, terdapat tiga strategi utama yang dapat dilakukan gereja dalam membangun ketahanan umat dan masyarakat.

Pertama, memperkuat ketahanan sosial-ekonomi melalui program pemberdayaan ekonomi jemaat, penguatan jaring pengaman sosial, serta pembangunan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Kedua, memperkuat respons terhadap perubahan iklim dengan mengedukasi umat mengenai gaya hidup ramah lingkungan dan mendorong keterlibatan aktif dalam aksi mitigasi bencana alam.

Ketiga, gereja diharapkan terus menjadi perekat persatuan bangsa dengan menghadirkan ruang yang inklusif, menjaga kedamaian, memperkuat solidaritas sosial, serta menolak polarisasi di tengah masyarakat.

Menurutnya, melalui transformasi tersebut gereja tidak lagi hanya bersikap pasif atau sekadar bertahan menghadapi perubahan zaman.

Gereja harus mampu menjadi pusat resiliensi yang memancarkan optimisme, memperkuat solidaritas kemanusiaan tanpa memandang perbedaan, dan memastikan tidak ada masyarakat yang terabaikan di masa-masa sulit.

Baca juga: Menakar Keabsahan Kebijakan Rektor dalam Bingkai Checks and Balances

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved