Selasa, 9 Juni 2026

Sulteng Hari Ini

Melemahnya Rupiah Bisa Tekan Akses Pendidikan Berkualitas

Menurut Fahmil, banyak kebutuhan pendidikan di Indonesia masih bergantung pada produk dan layanan.

Tayang:
Penulis: Ismet Togean 20 | Editor: Regina Goldie
TribunPalu.com/Ismet Togean 20
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga memberikan tekanan terhadap dunia pendidikan di Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan IPS Universitas Tadulako, Fahmil F Lahiya, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada sektor pendidikan.
  • Menurutnya, banyak kebutuhan pendidikan seperti buku referensi internasional, perangkat teknologi, laboratorium, perangkat lunak pendidikan, dan akses jurnal ilmiah masih bergantung pada transaksi dalam dolar AS.

Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga memberikan tekanan terhadap dunia pendidikan di Indonesia. 

Pandangan tersebut disampaikan Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan IPS Universitas Tadulako, Fahmil F Lahiya, yang menilai fluktuasi nilai tukar mata uang dapat memengaruhi biaya pendidikan serta akses terhadap berbagai kebutuhan akademik.  

Menurut Fahmil, banyak kebutuhan pendidikan di Indonesia masih bergantung pada produk dan layanan yang menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang transaksi. 
 
“Mulai dari buku referensi internasional, perangkat teknologi, laboratorium, perangkat lunak pendidikan, hingga akses jurnal ilmiah sebagian besar masih dibayar menggunakan dolar. Ketika Rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan lembaga pendidikan menjadi lebih besar,” ujarnya dalam keterangannya yang di terima Tribunpalu.com, Minggu (7/6/2026).  

Baca juga: Peringatan Tsunami Berakhir, BPBD Buol Pastikan Wilayah Tetap Aman

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban biaya yang ditanggung sekolah maupun perguruan tinggi dalam memenuhi kebutuhan akademik dan pengembangan kualitas pendidikan. 

Selain itu, Fahmil menilai mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri juga menghadapi tantangan akibat melemahnya nilai Rupiah

Menurutnya, kenaikan biaya hidup dan biaya pendidikan di negara tujuan studi dapat menjadi hambatan bagi mahasiswa penerima beasiswa maupun yang dibiayai keluarga.

“Kondisi ini dapat mengurangi akses masyarakat terhadap pendidikan berkualitas di tingkat global, khususnya bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga menengah ke bawah,” katanya. 

Lebih jauh, Fahmil menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan nasional masih perlu diperkuat agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih mandiri dan berdaya saing. 

Ia berpendapat pendidikan seharusnya menjadi instrumen utama dalam menciptakan generasi yang inovatif, produktif, serta mampu menghasilkan teknologi dan industri yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. 

Baca juga: Polres Banggai Tunda Operasi Patuh Tinombala 2026, Jadwal Baru Belum Ditetapkan

“Jika lulusan pendidikan masih lebih banyak menjadi konsumen daripada pencipta teknologi dan industri, maka ketergantungan terhadap produk luar negeri akan terus berlanjut dan membuat ekonomi nasional rentan terhadap gejolak nilai tukar,” jelasnya. 

Karena itu, Fahmil mendorong pemerintah menjadikan kondisi melemahnya Rupiah sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas pendidikan, terutama pada bidang sains, teknologi, riset, dan kewirausahaan. 

Menurutnya, pendidikan harus diarahkan pada pengembangan inovasi dan kemampuan menciptakan produk dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor dapat ditekan. 

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved