Selasa, 5 Mei 2026

Asal-usul 4 Tradisi Pernikahan di Dunia yang Miliki Latar Belakang Suram

Biasanya, upacara pernikahan selalu dikaitkan dengan kebahagiaan. Namun, beberapa tradisi pernikahan di dunia memiliki latar belakang yang suram.

Tayang:
weddingplanner.co.uk
Ilustrasi pengiring pengantin wanita. 

TRIBUNPALU.COM - Upacara pernikahan merupakan satu perayaan dalam jenjang baru kehidupan manusia.

Biasanya, upacara pernikahan selalu dikaitkan dengan kebahagiaan.

Namun, beberapa tradisi pernikahan di dunia memiliki latar belakang yang cukup gelap.

Sebab, secara historis pernikahan kerapkali dikelilingi oleh kisah-kisah menakutkan.

Bahkan, ada tradisi pernikahan yang dilakukan untuk mengusir roh jahat.

Berikut TribunPalu.com merangkum empat tradisi pernikahan yang memiliki latar belakang suram dari laman This is Insider:

1. Bridesmaid atau pengiring pengantin wanita biasa mengenakan kostum yang sama untuk mengecoh roh jahat yang berniat buruk kepada mempelai wanita.

Bridesmaid atau pengiring mempelai wanita.
Bridesmaid atau pengiring mempelai wanita. (weddingplanner.co.uk)

Ada satu teori, tradisi pakaian serupa atau hampir mirip yang dikenakan pengiring pengantin sudah ada sejak zaman Romawi Kuno.

Mempelai perempuan dianggap sebagai incaran roh-roh jahat.

Jadi, semua pengiring wanita berpakaian sama untuk mengecoh roh jahat agar tidak mengganggu pernikahan kedua mempelai..

Namun, ada satu teori lain yang berasal dari era Victoria.

Liz Gloyn, seorang dosen di Classic and Royal Holloway di University of London, mengatakan kepada The Independent bahwa tradisi tersebut berasal dari ketakutan akan adanya persaingan.

"Saya percaya, dengan mengatur para pengiring mempelai wanita dengan pakaian yang sama, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mencoba mengalahkan satu sama lain, terutama dengan si mempelai wanita, melalui penggunaan kain yang lebih besar, perhiasan yang lebih megah," Dr. Kata Gloyn.

2. Buket bunga yang dibawa mempelai wanita dulunya digunakan untuk menyamarkan bau badannya, dan dibuat dari herbal berbau tajam.

Menurut Huffington Post, tradisi mempelai wanita membawa buket berasal dari abad ke-15.

Pada Abad Pertengahan, banyak orang yang mengalami masalah bau badan dibandingkan orang-orang zaman sekarang.

Sehingga mempelai wanita membawa buket bunga yang harum untuk menyamarkan bau badan mereka sendiri.

Buket bunga sering dibuat dengan herbal yang berarmoa kuat, seperti bawang putih dan dill.

3. Kerudung mempelai wanita dulunya berwarna merah yang terlihat seperti terbakar, ini bertujuan untuk menakut-nakuti roh jahat.

Pada zaman Romawi, kerudung pengantin dibuat dengan lembaran merah yang disebut "flammeum," yang dirancang agar terlihat seperti api.

Seluruh tubuh pengantin wanita akan tertutup kerudung, dalam upaya untuk menakuti roh jahat.

Seiring waktu, kerudung merah tak lagi digunakan.

Namun, penggunaan kerudung tetap dipertahankan sebagai untuk melindungi pengantin wanita dari kekuatan jahat.

Kerudung bahkan dirancang berat untuk membatasi gerak si mempelai wanita, dan mencegahnya melarikan diri.

4. Pada zaman dahulu, tradisi ayah yang menyerahkan mempelai wanita kepada suaminya cenderung melambangkan transaksi bisnis.

Tradisi ayah mempelai perempuan yang mengantar putrinya menyusuri lorong menuju altar untuk "menyerahkannya" kira-kira berasal dari Book of Common Prayer and the Church of England tahun 1549.

Hal itu lebih bermakna atau melambangkan transaksi bisnis daripada apa pun, seperti penyerahan properti.

"Di Inggris, seperti di banyak tempat lainnya, perempuan telah lama dianggap sebagai 'properti' milik pria. Pertama milik ayah mereka dan kemudian suami mereka," menurut Time.

"Ungkapan 'penyerahan' ini menjadi petunjuk tentang peran wanita dalam pertukaran ini dari satu pria ke pria lain."

(TribunPalu.com/Rizki A. Tiara)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved