Pasca Quick Count Pilpres 2019, Ini 2 Polemik yang Muncul Antara BKN dan TKN
Setelah sejumlah lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat atau quick count untuk Pilpres 2019, muncul polemik.
TKN mengaku mendapatkan informasi mengenai jumlah sampel data yang dipakai BPN hingga akhirnya mengklaim menang.
Menurut Arya, BPN menggunakan sampel sedikit TPS kemudian langsung mengklaim kemenangan.
Contohnya, kata dia, BPN hanya menggunakan sampel 30 TPS di Lampung dan 468 TPS di DKI Jakarta.
Padahal, jumlah TPS di dua provinsi itu mencapai puluhan ribu.
Buka dapur penghitungan
TKN juga merasa gerah dengan narasi kecurangan pemilu yang terus diembuskan BPN Prabowo-Sandiaga terus menerus.
Akhirnya, TKN Jokowi-Maruf membuka war room yang bisa diakses publik.
Wakil Direktur Saksi TKN Lukman Edy menjelaskan, di war room ini terdapat 250 personel yang akan bekerja selama 24 jam setiap hari dalam tiga shift.
Mereka melakukan rekapitulasi hitung nyata atau real count dari hasil verifikasi C1 dari TPS seluruh Indonesia.
Hasil C1 diperoleh dari aplikasi yang dimiliki TKN, yakni JAMIN, sebuah aplikasi pelaporan saksi mulai dari TPS.
"Aplikasi ini memudahkan saksi untuk melaporkan hasil penghitungan suara serta foto C1 dari TPS," kata Lukman Edy.
Sementara itu, Arya Sinulingga mengatakan, siapa saja boleh datang ke war room yang terletak di Hotel Gran Mulia itu.
Pihak-pihak yang merasa ada kecurangan boleh ikut memeriksa data bersama relawan di war room TKN.
Arya menantang balik BPN Prabowo-Sandiaga untuk mau buka-bukaan dapur penghitungan suara mereka.
Menurut dia, klaim kemenangan Prabowo selama ini harus diikuti dengan penjabaran data yang lengkap.