Momen Perpisahan dengan Jusuf Kalla, Penuh Haru dan Kenangan Para Pewarta
Lambaian tangan, ucapan terima kasih dan rasa haru mengiringi keluarnya sedan itu dari gerbang depan Istana Wakil Presiden.
Ia mengumpulkan masyarakat dan memberikan penjelasan sehingga suasana tegang pun menjadi lebih kendor.
"Jika ada yang kurang, dengan segala hormat, Bapak (Jusuf Kalla), kurangnya cuma satu saja, Bapak bukan jenderal TNI maupun Polri," kata Tito.
"Tapi saya paham secara personal bahwa keberanian, ketegasan Bapak dalam bersikap melebihi ketegasan dan keberanian jenderal TNI dan Polri. Sosok Bapak yang bukan jenderal TNI-Polri, membuat bingung jenderal TNI-Polri karena Bapak jauh lebih tegas dan berani," lanjut dia.
Pengalaman Pewarta
Kenangan dengan Kalla juga melekat di benak para pewarta yang sehari-hari meliput di Istana dan Kantor Wakil Presiden.
Jusuf Kalla menyediakan waktu sekali sepekan setiap Selasa untuk kami wawancarai mengenai berbagai isu pemerintahan.
Sebelum wawancara pada tengah hari dimulai biasanya Kalla menanyakan apakah kami sudah makan siang.
Terkadang ada pewarta yang iseng menjawab belum, padahal kami sudah makan.
Bila mendengar jawaban belum makan, Kalla biasanya memasang muka terkejut dan langsung menoleh kepada staf Sekretariat Wakil Presiden yang menyiapkan konsumsi wartawan.
Sebab semestinya konsumsi untuk para pewarta sudah disiapkan.
Kalla juga punya ciri khas saat berbicara. Dialek bugis Kalla yang kental kentara saat ia mengucapkan kata "baik".
Jika Kalla yang mengucapkan, maka kata "baik" diucapkan menjadi "baek".
Kekhasannya itu justru membuat Kalla penasaran.
Pada acara makan siang bersama sekaligus perpisahan dengan para pewarta di Kantor Wakil Presiden, Kalla menanyakan langsung ihwal kekhasannya itu kepada kami.
"Kalian kalau menulis saya pas ngomong 'baek', kalian tuisnya 'baik' apa 'baek'," tanya Kalla penasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/jusuf-kalla-jk.jpg)