BPS: Komoditas Makanan Sangat Berperan dalam Mempengaruhi Angka Kemiskinan di Sulawesi Tengah

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Dumangar Hutauruk menjelaskan peran komoditas makanan sangat mempengaruhi angka kemiskinan.

Penulis: Haqir Muhakir |
TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Dumangar Hutauruk (tengah), saat menjelaskan data jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Tengah, Sabtu (18/1/2020) 

TRIBUNPALU.COM, PALU – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Dumangar Hutauruk menjelaskan, peran komoditas makanan sangat mempengaruhi angka kemiskinan di Sulteng, Sabtu (18/1/2020) siang.

Peranan komoditas makanan itu jauh lebih besar dibandingkan komoditas bukan makanan, seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Tercatat, kata Dumangar, kontribusi Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap Garis Kemiskinan pada September 2019 tercatat sebesar 76,65 persen.

“Kondisi itu meningkat dibanding Maret 2019, yaitu sebesar 76,35 persen,” ungkap Dumangar.

Tambah Dumangar, ada beberapa jenis komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan.

Seperti, beras, rokok kretek filter, ikan tongkol/tuna, kue basah, gula pasir, telur ayam ras, cabe rawit, mie instan, dan bawang merah.

“Sedangkan, untuk komoditas bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi,” ujar Dumangar.

Akhir Tahun 2019, BPS Catat Jumlah Penduduk Miskin di Sulawesi Tengah Capai 404.030 Orang

Helmy Yahya Dicopot dari Jabatan Direktur Utama TVRI, Tantowi Yahya: Stay Strong, Brother!

Gelar Konser di Korea Selatan, Band Rock Legendaris Queen Apresiasi Popularitas yang Dicapai K-Pop

Sebut Negara Absen di Kasus Dugaan Korupsi Jiwasraya, PKS: Negara Harus Hadir Perjuangkan Rakyat

Diketahui, jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Tengah tercatat mencapai 404.030 orang pada September 2019.

Jumlah itu mencakup 13,18 persen dari total jumlah penduduk di Provinsi Sulawesi Tengah yang terdiri atas satu kotamadya dan 12 kabupaten.

Pengelompokan penduduk miskin berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan Sulawesi Tengah, yakni Rp391.763 per tahun.

Jumlah itu, kata Dumangar, berkurang sebesar lebih dari 6.300 orang jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2019 yang berjumlah 410,360 orang atau sekitar 13,48 persen dari total penduduk di Sulawesi Tengah.

Lanjut Dumangar, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 9,32 persen, kemudian turun menjadi 8,90 persen pada September 2019.

“Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2019 sebesar 15,26 persen turun menjadi 15,01 persen pada September 2019,” jelas Dumangar, Sabtu (18/1/2020) siang.

Ditambahkannya, selama periode Maret 2019 - September 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak kurang lebih 3.500 orang.

Yakni, dari 84.740 orang pada Maret 2019, menjadi 81.460 orang pada September 2019.

“Sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 3.100 orang, dari 325.620 orang pada Maret 2019 menjadi 322.570 orang pada September 2019,” terangnya.

(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved