Penggunaan Masker Non-Medis saat Pandemi Virus Corona, Apa Kata Ahli Kesehatan Dunia?

Kini penggunaan masker non-medis mulai disarankan WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

Twitter/@abc7community
ILUSTRASI masker kain atau masker non-medis. Masyarakat umum dapat menggunakan masker non-medis, seperti masker kain, atau menggunakan syal untuk menutup hidup dan mulut saat berada di bandara. 

Redfield mengatakan kemungkinan virus corona jenis baru ini dapat tiga kali lebih menular dari flu.

Beberapa orang yang terinfeksi dan menularkan virus mungkin selama dua hari belum menunjukkan gejala apa pun.

"Ini dapat membantu menjelaskan seberapa cepat virus ini menyebar di seluruh negeri, karena kita memiliki transimisi tanpa gejala dan orang yang dapat mentransmisikannya selama 48 jam sebelum menjadi gejala," jelas Redfield.

Selama wabah virus corona ini terjadi, cukup banyak orang tanpa gejala Covid-19 dapat memberi kontribusi pada penularan virus.

Dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan, penggunaan masker medis oleh masyarakat telah membuat petugas kesehatan kesulitan memperolehnya.

Padahal, mereka merupakan garda terdepan dalam penanganan wabah Covid-19 ini, sehingga masker medis sangat diperlukan.

"Gagasan untuk mendapatkan masker di masyarakat yang lebih luas, di luar perawatan kesehatan sedang didiskusikan dengan hati-hati oleh gugus tugas CDC," jelas Dr. Fauci.

PBNU Ingatkan Masyarakat Agar Jangan Menolak Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

Covid-19, Hampir Semua Negara G20 Diprediksi Mengalami Resesi, kecuali Indonesia dan 2 Negara Ini

Masker berfungsi untuk menghentikan droplet atau tetesan dari mulut maupun hidungnya seseorang yang mungkin terinfeksi virus atau sedang sakit.

Jadi lebih perlu ketimbang menghentikan perolehan virus yang dari orang lain.

Jika setiap orang memakai masker, orang-orang akan saling melindungi, mengurangi transmisi virus ke komunitas secara menyeluruh.

Di Hong Kong dan Taiwan telah lebih dulu menggunakan masker universal untuk dapat mengendalikan jumlah kasus penyebaran infeksi virus corona.

Indikasi tentang penyebaran virus corona mungkin dapat melalui udara dan dapat berada lebih lama di lingkungan sekitar yang mungkin disebabkan oleh droplet pernapasan.

Namun, sejauh ini, hal itu dianggap sebagai mode utama penularan virus corona.

Dalam suatu studi di Singapura, ditemukan jejak virus di ventilasi udara di ruang isolasi pasien.

Sedangkan studi lain menyebut, para peneliti di University of Nebraska Medical Center telah mendeteksi kontaminasi luas di kamar pasien, serta sampel udara yang dikumpulkan di lorong-lorong kamar.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved