Waspada Varian Baru Covid-19! Jangan Tunda Vaksin dan Patuhi Protokol Kesehatan
Jangan tunda vaksinasi, percepat kekebalan tubuh, waspada varian virus baru masuk Indonesia, virus Corona B.1.1.7
TRIBUNPALU.COM - Di Indonesia saat ini telah ditemukan varian baru virus Covid-19.
Varian baru tersebut diyakini tidak akan mempengaruhi efektifitas vaksin yang diberikan kepada masyarakat.
Karena jika salah satu vaksin yang ada terbukti kurang efektif terhadap satu atau lebih varian, maka hal itu akan menjadi dasar perbaikan komposisi vaksin untuk melindungi dari varian tersebut secara spesifik.
Melalui video yang diunggah kanal YouTube Sekretariat Presiden, Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 menyebutkan vaksin adalah intevensi yang sudah teruji manfaat kesehatannya.
Vaksin tersebut jelas bermanfaat kesehatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan nyawa.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan tidak menunda vaksinasi atas dasar kekhawatiran varian baru yang muncul.
Sekalipun vaksin mungkin kurang efektif terhadap beberapa varian virus Covid-19.
"Layaknya berperang, kita harus memanfaatkan senjata yang ada untuk dapat menang," jelas Wiku.
Pemerintah Indonesia berkomitmen terus melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas vaksin yang ada saat ini.
Pemerintah juga akan berupaya melakukan percepatan vaksinasi di Indonesia, dan juga memprioritaskan kelompok yang rentan untuk menekan laju penularan dan kemunculan varian baru.
Saat ini para peneliti lembaga pemerintahan bidang kesehatan, para ilmuwan bekerja keras mengidentifikasi varian virus baru.
Melalui Whole Genum Sequencing atau cara melihat identitas virus.
Yang kemudian dikumpulkan melalui GISAID, untuk mendalami pengaruhnya terhadap perilaku virus tersebut.
Para produsen dan program yang mendayagunakan vaksin harus terus menyesuaikan kondisi evolusi virus Covid-19.
Misalnya memasukkan lebih dari 1 strain dalam pengadaan produk vaksin, dan menambahkan suntikan penguat atau booster, dan lain-lain.
"Uji juga harus dirancang dengan baik, agar memungkinkan penilaian setiap perubahan efikasi dan dapat terlihat, harus memiliki skala dan keragaman yang memadai untuk memungkinkan hasil interpretasi yang jelas," lanjut Wiku.
Selain itu, studi tentang dampak pembentukan antibodi pada penerima atau efektifitas vaksin juga menjadi penting untuk mengetahui dampak program vaksinasi.
Misalnya dengan melakukan zero survey pada masyarakat.
Disamping itu, mengenai kemunculan varian baru, Wiku menjelaskan hal terkait.
"Proses semua virus termasuk Sars-Cov2 memperbanyak diri. Saat menggandakan diri terkadang terjadi sedikit perubahan yang sangat normal," jelasnya.
Ia menambahkan perubahan-perubahan tersebut yang disebut mutasi.
Sedangkan virus dengan satu atau lebih mutasi disebut varian dari virus aslinya.
"Ketika virus menyebar luas di populasi dan menyebabkan angka kasus yang tinggi, maka kemungkinan virus bermutasi juga meningkat," tambah Wiku.
Sebagian besar mutasi virus tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap kemampuan virus menyebabkan infeksi atau penyakit.
Namun, berdasarkan lokasi perubahan pada material genetik virus, maka sangat mungkin mempengaruhi sifat virus seperti sifat penularannya.
Bisa kurang atau lebih cepat menular atau besar keparahan yang ditimbulkan.
Terkait hal tersebut, vaksin Covid-19 yang sedang dalam pengembangan atau sudah disetujui diharapkan dapat memberikan setidaknya beberapa proteksi untuk melawan varian virus baru.
Baca juga: Mutasi Virus Corona, B.1.1.7 Telah Masuk Indonesia, Ini Cara Tepat Lindungi Diri
Pada prinsipnya vaksin Covid-19 dalam pengembangannya memperhatikan respon imun yang luas dan mempertimbangkan berbagai antibodi dan sel.
"Oleh karena itu, perubahan atau mutasi pada virus tidak membuat vaksin menjadi tidak efektif sama sekali," tegas Wiku.
Virus Varian Baru B.1.1.7
Kementerian Kesehatan RI menerima informasi adanya dua kasus positif COVID-19 pada Senin (1/3/2021).
Kasus tersebut diduga mutasi virus Corona dari Inggris.
Disebut juga dengan B.1.1.7.
Dua kasus tersebut merupakan hasil temuan dari 462 sampel yang diperiksa.
Di Inggris mutasi virus Corona B.1.1.7 tersebut diumumkan pada Desember 2020 lalu.
Dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, SIti Nadia Tarmizi menjelaskan virus tersebut.
'Virus Corona adalah tipe virus RNA (ribonucleic acid) yang secara alami mudah mengalami mutasi dan mutasi memang merupakan kemampuan virus untuk bertahan hidup," jelasnya.
Ia menambahkan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa virus mutasi tersebut lebih tinggi tingkat keganasannya.
"Hingga saat ini, kami belum mendapatkan bukti ilmiah bahwa virus mutasi COVID-19 ini lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus COVID-19 yang awal, namun, dari beberapa penelitian di negara lain menunjukkan varian virus baru ini lebih cepat menular," imbuhnya.
Mutasi terjadi pada bagian tanduk atau spike dari virus yang menyebabkan virus lebih mudah masuk ke sel sasaran.
Hal ini menyebabkan penularannya akan lebih cepat dibanding varian yang lama.
Kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit.
Namun, hingga saat ini penelitian terkait varian baru ini terus dilakukan.
Para peneliti yang mendalami virus Corona B.1.1.7 mengonfirmasi bahwa efektivitas inokulasi terhadap virus masih ada di level yang bisa diterima.
Sehingga sejauh ini virus Corona B.1.1.7 belum mengganggu kinerja vaksin.
''Vaksin yang sekarang digunakan pemerintah masih efektif untuk mencegah penularan mutasi virus sehingga tidak akan mempengaruhi kekebalan kelompok,'' ujar Nadia.
Nadia menghimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tetap waspada.
''Meskipun tingkat keganasan varian baru virus COVID-19 ini belum diketahui, namun dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi," jelasnya.
Masyarakat harus lebih waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan harus lebih diperketat, serta mensukseskan program vaksinasi COVID-19.
(TribunPalu.com/DindaNalifa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/covid-corona-199.jpg)