Tsunami Aceh 2004 Disebut Bencana Buatan Amerika, Begini Penjelasan dari BMKG
Dr Daryono, membantah teori konspirasi mengenai bencana tsunami Aceh tahun 2004 silam.
TRIBUNPALU.COM - Tujuh belas tahun berlalu, tragedi tsunami Aceh kembali ramai diperbincangkan.
Muncul kabar bahwa ada teori konspirasi di balik terjadinya tsunami Aceh tahun 2004 silam tersebut.
Bahkan ada yang menyebut bahwa tsunami Aceh merupakan bencana buatan Amerika Serikat.
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr Daryono, membantah teori konspirasi mengenai bencana tsunami Aceh tahun 2004 silam.
"Saya tergelitik karena ada yang mengangkatnya kembali," ungkap Daryono kepada Tribunnews.com, Senin (22/3/2021).
Daryono menegaskan, tsunami Aceh benar-benar dipicu oleh gempa tektonik, bukan nuklir.
Setidaknya, ada tujuh poin bukti ilmiah yang diungkapkan Daryono sebagai bantahan atas teori konspirasi tersebut.
Baca juga: Penampakan Rumah Mewah Kebon Jeruk Sebelum Dipreteli Maling, Ada Lampu Kristal 3 Tingkat
Baca juga: Daftar Harga HP Samsung Terbaru Maret 2021 dan Spesifikasinya, Mulai dari Galaxy A32 hingga S21
Baca juga: Tak Direstui Nikah, Anak Tega Bunuh Ayah Kandung, Kepalanya Dipenggal Lalu Dibawa Keliling Kampung
Pertama, data rekaman getaran tanah.
Daryono mengungkapkan data rekaman getaran tanah dalam seismogram menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure) yang tercatat tiba lebih awal dibandingkan gelombang S (Shear) yang datang berikutnya.
Selanjutnya gelombang S diikuti oleh gelombang permukaan (surface).
"Munculnya fase-fase gelombang body ini menjadi bukti kuat bahwa gempa dan tsunami Aceh dipicu oleh aktivitas tektonik, bukan ledakan nuklir," ungkap Daryono.
Kedua, munculnya gelombang S (Shear).
"Munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram menunjukkan bahwa deformasi yang terjadi di Samudera Hindia sebelah barat Aceh adalah proses pergeseran (shearing) yang terjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi akibat terjadinya patahan batuan dalam proses gempa tektonik, bukan akibat ledakan nuklir," jelas Daryono.
Ketiga, deformasi dasar laut.
Datyono mengungkapkan deformasi dasar laut di Samudra Hindia sebelah barat Aceh pada 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik yang dibuktikan dengan adanya variasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/tsunami-aceh.jpg)