Siapa Itu Sofyan Tsauri? Mantan Teroris yang Ngaku Pernah Diracun Akibat Dituduh Habib Rizieq Shihab
Sofyan Tsauri belakangan sering tampil di layar kaca setelah ramai pemberitaan mengenai aksi terorisme di Indonesia.
TRIBUNPALU.COM - Sofyan Tsauri belakangan sering tampil di layar kaca setelah ramai pemberitaan mengenai aksi terorisme di Indonesia.
Dirinya kerap diundang sebagai narasumber untuk membahas masalah terorisme akhir-akhir ini.
Mulai dari aksi bom bunuh diri di Makassar, penyerangan di Mabes Polri, hingga penangkapan sejumlah terduga teroris oleh Densus 88.
Sofyan kerap hadir memberikan komentar dan pendapatnya mengenai terorisme di Indonesia.
Bukan tanpa alasan dirinya kerap diundang sebagai narasumber.
Baca juga: Apakah FPI Terlibat Penyerangan di Makassar dan Mabes Polri? Begini Pendapat Mantan Teroris
Baca juga: DPO Terduga Teroris Nauval Farisi, Sebelum Serahkan Diri Sempat Cairkan Bansos Februari Lalu
Sofyan Tsauri adalah mantan teroris yang juga pernah bertugas sebagai anggota Polri.
Siapa itu Sofyan Tsauri?
Dilansir dari Tempo, Sofyan Tsauri lulus sekolah Bintara Polri di Sekolah Polisi Negara (SPN) Lido, Jawa Barat 1998.
Ia kemudian ditugaskan di Polres Depok pada fungsi Sabhara dan Binmas.
Pada tahun 2002, Sofyan dikirim ke Biureun, Aceh, dalam penugasan Perintis Sabhara.
Dalam masa tugas itulah Sofyan mulai terpapar pemikiran Aman Abdurahman, pimpinan Jemaah Ansharut Daullah (JAD).
Sofyan kemudian bergabung dengan jaringan teroris Al Qaida Asia Tenggara dan memiliki nama Abu Ayas.
Tugasnya ketika itu sebagai pemasok senjata untuk para teroris di Aceh.
Sofyan akhirnya mendapat pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) karena alasan poligami dan terlibat terorisme di tahun 2009.
Ia ditangkap Densus 88 di Narogong, Bekasi, pada 2010 karena keterlibatannya dengan terorisme.
Pada 6 Maret 2010 Sofyan divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Depok.
Ia hanya menjalani hukuman selama 6 tahun setelah mendapat remisi.
Saat ini Sofyan telah terbebas dari paham radikal dan sehari-hari membantu pihak kepolisian melaksanakan sosialisasi anti terorisme.
Ia aktif membagikan pengalaman kepada para anak muda atau generasi milenial, agar mereka tidak terpapar paham radikal.(*)
Cerita Sofyan Tsauri pernah dituduh HRS
Mantan teroris Sofyan Tsauri blak-blakan cerita pengalaman selama berada di dalam penjara bersama narapidana kasus terorisme lainnya.
Sofyan mengaku hari-harinya di dalam penjara dijalani dengan suasana menegangkan.
Teman-temannya sesama napi kasus terorisme digambarkan berwatak keras dan suka menuduh.
Selain itu kata Sofyan, mereka cenderung tidak menyukai orang lain yang memiliki ideologi berbeda.
Pengalaman mengerikan dialami Soyfan ketika dirinya pernah diracun narapidana lainnya.
Baca juga: Dikira Lelucon, Warganet Terkejut Mengetahui Kisah Dibalik Wanita Pamer Tangan dan Wajah Hangus
Baca juga: Antisipasi Dampak Pemanasan Global, Akademisi Untad Sarankan Pemerintah 3 Hal Ini
Menurut Sofyan, hal itu terjadi ketika Habib Rizieq Shihab (HRS) menuduh dirinya sebagai intel yang sengaja menyusup di antara para napi kasus terorisme.
Tuduhan itu sempat memicu ketegangan di dalam penjara.
Banyak napi mulai tak percaya pada Sofyan hingga nekat melakukan percobaan pembunuhan.
“Saya itu pernah di dalam penjara dua kali diracun, oleh kelompok ini (napi kasus terorisme). Karena memang waktu itu kan Habib Rizieq ini pernah menuduh saya ini sebagai intel ceritanya.”
“Karena menuduh saya sebagai intel penyusup, akhirnya orang-orang ini ada yang percaya dengan kata Habib ini. Padahal saya ini dipenjara, kalau saya intel kan saya nggak dipenjara kan,” cerita Sofyan dilansir dari kanal YouTube Karni Ilyas Club, Sabtu (10/4/2021).
Sofyan mengaku hampir mati dua kali akibat diracun narapida kasus terorisme lainnya.
Saat itu dirinya sampai dilarikan ke rumah sakit dan mengalami muntah-muntah.
“Saya digabungkan dengan ikhwan-ikhwan yang lainnya sesama teroris, udah gitu dituduh intel, teman-teman jadi gaduh."
“Akhirnya saya diracun dua kali, entah pake racun tikus, yang jelas saya masuk rumah sakit, muntah-muntah saya,”
“Saya hampir mati waktu itu, tapi alhamdulliah dokter cepat mengobati saya, keluar muntah semua,” tutur Sofyan.
Akibat kejadian itu, Sofyan mendapat satu pelajaran penting tentang karakter para pelaku teror.
Ia menjelaskan bahwa penganut paham radikal siap membunuh dan merampas harta siapa saja yang dianggap penyusup atau intel.
“Dalam terminologi kelompok jihad, kalau orang sudah dituduh jasus atau intel itu pasti halal darah hartanya,” katanya.(*)