Ramadan 2021 di Sulteng

Strategi Bank Indonesia Sulteng Jaga Kestabilan Harga Selama Ramadan 1442 H

KPw Bank Indonesia Sulawesi Tengah mengumumkan terdapat potensi tekanan inflasi pada Ramadan 1442 H yang jatuh pada bulan April – Mei 2021.

Editor: Haqir Muhakir
net
Ilustrasi inflasi 

TRIBUNPALU, PALU - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sulawesi Tengah mengumumkan terdapat potensi tekanan inflasi pada Ramadan 1442 H yang jatuh pada bulan April – Mei 2021.

Tekana inflasi berasal dari kelompok volatile foods seperti telur ayam dan ikan segar serta tarif angkutan udara menjelang lebaran.

"Oleh karena itu TPID memberikan perhatian pada pada komoditas tersebut agar harga komoditas masih dapat terkendali," Kepala Kpw BI Sulawesi Tengah M Abdul Majid Ikram di kantornya Jl Sam Ratulangi Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Senin (26/4/2021) sore.

Kepala Kpw BI Sulawesi Tengah M Majid Ikram
Kepala Kpw BI Sulawesi Tengah M Majid Ikram (Handover)

Di samping itu kata Majid, potensi penurunan harga juga masih terus berlanjut terutama dari jenis barang kendaraan bermotor.

Bank Indonesia optimis inflasi Sulawesi Tengah pada 2021 dapat dikendalikan pada kisaran 3 plus minus 1 persen. 

Baca juga: Renegades ONE OK ROCK Puncaki Chart Spotify hingga Rurouni Kenshin The Final jadi Box Office Jepang

Baca juga: Fakta Jambret di Jl Touwa Palu: Tersangka Asal Jl Otista dan Sudah Beraksi di 10 TKP

Baca juga: Idulfitri 2021 di Sulteng: BI Prediksi Kebutuhan Uang Masyarakat Capai Rp 996 Miliar

Untuk diketahui, Sulawesi Tengah mencatat inflasi periode Maret 2021 sebesar 2,31 persen.

Jumlah itu lebih rendah dibandingkan inflasi Maret 2020 yang mencapai 2,77 persen.

"Realisasi Maret 2021 itu masih berada pada rentang target yakni 3,0 plus minus 1 persen," kata Majid. 

Secara spasial, baik Kota Palu maupun Kota Luwuk mengalami inflasi.

Palu mencatatkan inflasi sebesar 0,21 persen, lebih tinggi dari inflasi Februari 20021 sebesar 0,16 persen.

Sementara Kota Luwuk mengalami inflasi 0,13 setelah bulan sebelumnya tercatat mengalami deflasi -0,06 persen.

"Tekanan inflasi Sulawesi Tengah terutama disebabkan oleh komoditas volatile foods seperti ikan selar atau tude, cabai rawit, tahu dan tempe," tambah Majid.

Selain volatile foods, inflasi juga disumbang dari kenaikan harga bahan bakar rumah tangga.

Tekanan inflasi tersebut dapat tertahan oleh turunnya harga beberapa barang seperti harga mobil, tiket angkutan udara dan beras.

Penurunan harga mobil didorong oleh penerapan kebijakan pembebasan PPnBM oleh Pemerintah.

Sementara itu, tarif angkutan udara juga mengalami penurunan seiring dengan masih terbatasnya mobilitas masyarakat pada area transit. Harga beras tercatat menurun ditunjang oleh panen raya di sejumlah daerah di Sulteng. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved