Breaking News:

Palu Hari Ini

Kasus Pasien Diabetes Melitus Terus Meningkat, Pesantren Luka Digelar di Palu

Kasus pengidap Diabetes Melitus (DM) di Sulawesi Tengah terus meningkat, Indonesia Wound Care Clinician Association (InWCCA) gelar pesantren luka.

Handover
PESANTREN LUKA - Indonesia Wound Care Clinician Association (InWCCA) gelar pesantren luka di auditorium Stikes Widya Nusantara Palu, Jl Untad 1, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alan Sahril

TRIBUNPALU.COM, PALU- Kasus pengidap Diabetes Melitus (DM) di Sulawesi Tengah terus meningkat, Indonesia Wound Care Clinician Association (InWCCA) gelar pesantren luka di auditorium Stikes Widya Nusantara Palu, Jl Untad 1, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Agenda dalam pesantren ini ialah pelatihan terhadap perawatan luka, mengatasi luka, serta cara menanganinya dengan baik.

Menurut Gubernur InWCCA Sulawesi Tengah Saiful R Taher, angka kenaikan pasien luka Diabetes Melitus terus meningkat dan tidak berimbang dengan ketersediaan perawat serta skill dalam melakukan perawatan.

"Karna memang kita melihat di sekitar kita banyak kasus luka yang kemudian dari rumah sakit itu mereka kadang melakukan perawatan sendiri sehingga banyak bermasalah," ucap Saiful R Taher kepada TribunPalu.com, Sabtu (1/4/2021) pagi.

Baca juga: Cerita Dekan FISIP Untad Menjemput Napi Teroris yang Bebas dari Penjara

"Itulah pentingnya kami melakukan kegiatan ini digelar agar mereka paham dengan manajeman perawatan luka, sehingga ke depan pasien yang mengalami luka bisa di tangani dengan baik," sambungnya.

Saiful R Taher menyebut, perawat luka saat ini sangat dibutuhkan sehingga membuka peluang bagi lulusan perawat di Kota Palu dalam membuka praktek perawatan luka maupun perawatan homecare.

"Karna jujur di Kota Palu yang melakukan kegiatan perawatan luka (membuka klinik) sejak tahun 2012 masih terbatas karana kami tidak semua dapat menjangkau orang-orang yang bermasalah luka itu," sebutnya.

Ia menerangkan, ketidaktahuan keluarga pasien dalam menangani perawatan luka dengan baik akan berdampak sangat fatal.

"Masalah yang dialami pihak keluarga pasien maupun pasien sendiri ialah ketidaktahuan dalam melakukan perawatan luka sehingga menimbulkan kompilasi seperti lukanya yang harusnya penyembuhannya cepat tapi tertunda."

"Kemudian lukanya bisa terjadi infeksi, dan jika pasien DM terkena infeksi biasanya harus dilakukan organ tubuh yang terkena luka itu bisa saja di operasi dengan kata lain di potong (diamputasi)," katanya.

Saiful R Taher menambahkan, komplikasi yang terjadi pada pasien luka tidak hanya disebabkan oleh ketidaktahuan dalam melakukan perawatan.

Namun, faktor ekonomi, jarak tempuh yang jauh, sibuknya keluarga pasien, serta takutnya terpapar Covid-19 jika berkunjung ke rumah sakit juga menjadi faktor pasien luka DM tidak mendapatkan perawatan maksimal.

"Selain itu, dari temuan kami di lapangan jarak tempat tinggal mereka jauh dari rumah sakit, dana tidak cukup, dan juga sibuknya keluarga pasien sehingga banyak pasien luka nanti berdampak pada pasien," terang Saiful R Taher. (*)

Penulis: Alan Sahrir
Editor: Muh Ruliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved