Breaking News:

Sidang Kasus Qidam

Momen Ayah Qidam Pertanyakan Insiden Dugaan Penembakan Anaknya pada Kapolda Sulteng

Momen Ayah Qidam Pertanyakan Insiden Dugaan Penembakan Anaknya pada Kapolda Sulteng

TRIBUNPALU.COM/FANDY
Ayah kandung Qidam Alfarizki Mofance, Irwan Mofance usai menyaksikan putusan hakim Pengadilan Negeri Palu, Kamis (3/6/2021) sore. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Setelah setahun lebih menanti keadilan atas meninggalnya Qidam Alfariski Mofance di Poso, Irwan Mofance harus menanggung kekecewaan karena Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Palu menolak gugatan dugaan pencemaran nama baik terhadap anaknya Qidam

Qidam diduga menjadi korban salah tembak oleh oknum Satgas Tinombala saat melintas di belakang Polsek Poso Pesisir Utara pada 9 April 2020.

Dalam peristiwa nahas itu, Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Kombes Pol Didik Supranoto sempat menyebut korban memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). 

Namun 2 bulan kemudian, Polda Sulteng meralat informasi tersebut.

Baca juga: Kekejaman Terbaru KKB Papua di Distrik Ilaga: Bakar Bandara dan Tembak Mati Warga Sipil

Baca juga: Kurangnya Kebersihan Warga Kilongan Permai, Luwuk Utara

Baca juga: Kurangi Konsumsi Makanan Ini Demi Kesehatan Ginjalmu

Kepada TribunPalu.com, Irwan menceritakan kala dirinya bertemu Kapolda Sulawesi Tengah saat masih dijabat Irjen Pol Syafril Nursal pada 2 Juli 2020.

Perjumpaan itu berlangsung di Gedung DPRD Sulawesi Tengah saat agenda rapat dengar pendapat (RDP) terkait kasus sang anak.

Dihadapan Kapolda, dirinya menanyakan perihal sebab insiden penembakan tersebut. 

Namun, ia mengaku tercengang saat orang nomor satu di Polda Sulawesi Tengah itu membeberkan alasannya. 

"Semua jawabannya tidak masuk akal. Kapolda mengatakan Qidam saat itu memasuki wilayah operasi perburuan kelompok MIT. Padahal anak saya masih berada di wilayah pemukiman warga," ujar Irwan, Jumat (3/6/2021). 

Baca juga: Panglima OPM Bertobat dan Ajak KKB Kembali ke NKRI: Selama Ini Kita Telah Ditipu

Baca juga: Usulan Pembentukan OPD Pemadam Kebakaran Banggai Masih Dikaji

"Anak saya kesehariannya sebagai pengantre solar di SPBU dan tukang bangunan di Poso. Jika Qidam seperti yang dituduhkan, kenapa tidak ditangkap sejak dulu," ucapnya. 

Keanehan lain, kata Irwan, hasil investigasi Komnas HAM terkait kondisi jasad Qidam bertolak belakang dengan keterangan dari pihak kepolisian. 

Kemudian saat jenazah Qidam hendak dibawa ke Palu, Irwan meminta agar anggota keluarganya ikut mendampingi namun permintaan tersebut ditolak polisi. 

"Komnas HAM sebut luka sayatan ditubuh Qidam murni akibat penganiayaan. Tetapi polisi berikan keterangan kalau itu luka tembak," ujarnya. 

"Saat jenazah anak saya hendak dibawa ke RS Bhayangkara untuk divisum, saya minta agar anggota keluarga ikut mendampingi. Tetapi permintaan itu ditolak. Alasannya masalah itu tidak boleh diketahui," ucap Irwan. (*) 

Penulis: fandy ahmat
Editor: Haqir Muhakir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved