Rabu, 15 April 2026

Sulteng Hari Ini

Mengenang 91 Tahun Alkhairaat, Komunitas Muslim Terbesar di Indonesia Timur

Di 91 tahun usianya, Al-khairaat saat ini dikenal sebagai organisasi komunitas Islam terbesar di Indonesia Timur yang berpusat di Jl Sis Aljufri

TribunPalu.com/Handover
Pendiri AlKhairaat Habib Idrus bin Salim Aljufri bersama para muridnya 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Hari ini, Rabu (30/6/2021), merupakan hari didirikannya Yayasan Alkhairaat

Alkhairaat diresmikan pada 14 Muharram 1349 H atau 11 Juni 1930.

Di 91 tahun usianya, Alkhairaat saat ini dikenal sebagai organisasi komunitas Islam terbesar di Indonesia Timur yang berpusat di Jl Sis Aljufri, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah

Berbicara tentang Alkhairaat, tentu tidak lepas dari peran sang inisiator Habib Idrus bin Salim Aljufri atau akrab disapa Guru Tua

Atas jasa Guru Tua di bidang pendidikan Islam itu, namanya diabadikan di Bandara Mutiara Kota Palu, Sulteng. 

Habib Idrus bin Salim Aljufri merupakan keturunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dari jalur Sayyidina Husein bin Fatimah Az Zahra putri Nabi Muhammad. 

Di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah, Guru Tua dikenal sebagai sosok ulama yang sangat cinta ilmu. 

Guru Tua lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 15 Maret 1892.

Dalam sejarahnya, pendirian Al-khairaat berawal dari perjalanan dakwah Habib Idrus di Desa Wani, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada 1929.

Kehadiran Habib Idrus di Desa Wani dalam rangka memenuhi panggilan dari kakaknya Sayyid Alwi bin Salim Aljufri untuk mengajar. 

Di samping itu, masyarakat juga ingin mengenal Islam sehingga mereka bersama-sama mendirikan Madrasah Al Hidayah sebagai tempat untuk proses belajar mengajar. 

Belanda mulanya memberikan izin pendirian Madrasah Al-Hidayah. 

Namun ketika terjadi pemberontakan Salumpaga di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, pihak Belanda menutup madrasah tersebut karena khawatir dapat mempengaruhi pemikiran rakyat.

Kala itu, Belanda menyoroti kitab Idhatun Nasyi’in karya Musthafa Al-Ghalayani, yang membahas tentang makna kemerdekaan. 

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved