Breaking News:

Universitas Tadulako

Dihadiri BNPT, Webinar BEM FH Untad Singgung Polemik Tes Wawasan Kebangsaan KPK

Usai memaparkan materi terkait penanganan radikalisme dan terorisme, mahasiswa pun memberikan pertanyaan kritis kepada Brigjen Ahmad. 

Penulis: fandy ahmat | Editor: mahyuddin
TRIBUNPALU.COM/FANDY
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menghadiri acara webinar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum, Universitas Tadulako

Ia diundang menjadi pembicara webinar bertajuk "Menakar Paham Radikalisme di Tataran Perguruan Tinggi", Rabu (28/7/2021). 

Usai memaparkan materi terkait penanganan radikalisme dan terorisme, mahasiswa pun memberikan pertanyaan kritis kepada Brigjen Ahmad. 

Di antaranya soal polemik pertanyaan pilih Pancasila atau Alquran dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) kepada pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Menjawab hal itu, menurut Ahmad, pertanyaan tersebut semata untuk menguji tingkat moderasi beragama seseorang. 

Baca juga: Webinar FH Untad, Polda Sulteng Ungkap Kasus Dosen dan Mahasiswa Terlibat Terorisme

Sebab, Ahmad menyebut pertanyaan itu sering digunakan teroris dalam merekrut anggota. 

Sehingga para asesor akan melihat respon dari peserta TWK yang ditanyakan perihal memilih Alquran atau Pancasila

"Kelompok radikal atau teroris kerap membenturkan agama dengan kebudayaan, nasionalisme dan negara. Mereka kerap membenturkan kedua hal ini," kata Ahmad. 

"Jika seseorang spontan memilih Alquran, maka ada potensi radikal di dalam dirinya. Namun jika ia berpikir moderat, ia memilih Pancasila atau keduanya karena menganggap Pancasila sesuai nilai-nilai di dalam Alquran," jelasnya. 

Baca juga: Fenomena Langit Indonesia, rabu 28 Juli: Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Ahmad menuturkan, kaum radikal cenderung memahami nash-nash agama, baik ayat suci Alquran maupun hadis secara tekstual. 

Mereka menganggap Alquran diturunkan dalam bentuk yang sempurna sehingga tidak perlu lagi penjelasan atau penafsiran terhadapnya. 

"Pemahaman seperti ini sangat berbahaya. Mereka merumuskan agama dalam versinya sendiri dan menolak pendapat orang atau kelompok lain, sekalipun itu kebenaran," ucap Ahmad.(*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved