Breaking News:

Sulteng Hari Ini

35 Paralegal Terima SK dan Kartu Identitas, Dampingi Korban Kekerasan Berbasis Gender di 5 Wilayah

LBH Apik Sulteng dan Yayasan Maleo Sulteng menggelar pelatihan Protection dan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI)

Penulis: Nur Saleha | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Penyerahan SK dan Kartu Identitas kepada Paralegal usai mengikuti pelatihan dan penguatan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (24/9/2021) sore 

TRIBUNPALU.COM, PALU - LBH Apik Sulteng dan Yayasan Maleo Sulteng menggelar pelatihan Protection dan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), Jumat (24/9/2021) sore.

Berlangsung di Hotel Santika, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Dari pelatihan dan penguatan itu, sebanyak 35 Paralegal menerima SK dan Kartu Identitas.

Paralegal merupakan pendamping korban non advokat.

Ke-35 Paralegal itu terdiri dari kelompok mahasiswa, kelompok perempuan, kelompok dissabilitas, dan kelompok gender seksulitas.

Pendampingan mereka berfokus pada korban kekerasaan berbasis gender.

Seperti kekerasan seksual, pemerkosaan, kekerasan ekonomi yang berimbas pada penceraian yang dialami perempuan, anak, dissabilitas.

Maupun kelompok gender seksualitas, terutama kawan-kawan LBT dan transpuan. 

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan dan Kilau Rambut yang Dapat Anda Lakukan di Rumah Saja

Baca juga: Live Streaming Madura United vs PSS Sleman di Liga 1 2021, Pukul 16.15 Wita, Bisa Streaming via HP

Ke-35 Paralegal itu bertugas di wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Poso dan Banggai.

Program Manager Suharlin mengatakan, SK dan kartu identitas tersebut berfungsi sebagai legalitas kawan-kawan Paralegal yang melakukan pendampingan hukum bagi korban kekerasan berbasis gender.

"Ketika proses hukum berjalan, terutama urusan BAP dan lain-lain, biasanya pendamping di tanyakan identitas dan legalitas pendamping, sehingga YLBH APIK Sulteng dan Meleo Sulteng secara konsorsium melakukan ini," ujarnya, Sabtu (25/9/2021) siang.

Lanjut Suharlin, yang juga Direktur Maleo Sulteng itu, saat ini kasus yang paling banyak adalah kasus pencabulan dan pemerkosaan.

"Ini kasus yang terlihat ya, kita tidak tahu kasus yang tidak terungkap," jelasnya.

"Kita kembali lagi soal tenomena gunung es, di mana prinsipnya yang tidak terungkap banyak, hal ini biasa di dasari atas relasi kuasa, iming-iming alias bujuk rayu dan ketidakberdayaan, serta dampak teknologi," tambahnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved