PON Papua
Kisah Atlet Peraih Emas Asal Sulteng, Antar Jenazah Ibunya Sebelum Berlaga di PON Papua
Di hadapan keluarga dan para pelayat, pria akrab disapa Eman itu masih bisa menahan diri sebelum akhirnya menangis ketika berada di dalam kamar.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat
TRIBUNPALU.COM, PALU - Rahmad Hidayah menceritakan perjuangan sang adik sebelum berlaga di PON Papua hingga akhirnya menyabet Medali Emas pertama untuk Sulawesi Tengah (Sulteng).
Dua hari jelang pemberangkatan, ibunda Atlet Taekwondo Sulteng Abdul Rahman Darwin K Latjanda meninggal dunia usai mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura, Minggu (26/9/2021).
Rahmad menuturkan, saat itu keluarga sempat kebingungan perihal cara menyampaikan kabar tersebut kepada Rahman.
Karena sang adik tengah fokus mempersiapkan diri untuk mengikuti PON Papua.
Ia khawatir pikiran dan konsentrasi Rahman terganggu jika mengetahui sang ibu telah meninggal dunia.
Setelah berpikir panjang, Rahmad pun memberanikan diri untuk menyampaikan kabar duka itu kepada sang adik.
Baca juga: Sosok Rahman Atlet Sulteng Peraih Medali Emas di PON Papua, Dikenal Manja di Mata Keluarga
Bersama kakak dan seorang temannya, Rahmad kemudian menuju ke tempat karantina atlet Sulteng di Hotel Sutan Raja Jl Abdurrahman Saleh, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, pukul 02.00 Wita dini hari.
"Jenazah ibu waktu itu sudah berada di rumah. Rahman saat itu tahunya ibu masih di rumah sakit. Saya minta kakak saya agar menemani temui dan jemput Rahman," ujarnya, Selasa (5/10/2021).
Setiba di hotel, Rahmad menyebut adiknya sempat bingung atas kedatangannya secara tiba-tiba di tengah malam.
Rahmad kemudian mencoba merangkul Rahman namun tangannya ditepis.
"Mukanya terlihat heran saat menghampiri kami. Kemudian dengan nada marah, dia bertanya ada apa? Kenapa subuh-subuh datang?," kata Rahmad menirukan ucapan adiknya.
Rahmad kemudian secara perlahan menyampaikan kabar bahwa ibu mereka baru saja meninggal dunia.
Baca juga: Atlet Binaraga Sulteng Sumbang Medali Perak saat Berlaga di PON Papua
Mendengar hal itu, Rahman hanya bisa terdiam.
"Saya mengatakan kepada adik saya agar sabar. Dia lama diam dari hotel hingga sepanjang perjalanan menuju rumah. Saya tidak tahu apakah dia marah atau apa," ucap Rahmad.