Breaking News:

Palu Hari Ini

Jeritan Petani Garam Talise Palu, Pendapatan Merosot hingga Resah dengan Ketidakpastian Hunian Tetap

Petani garam di pesisir pantai Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, menjerit karena kehilangan mata pencarian.

Penulis: Alan Sahrir | Editor: Muh Ruliansyah
TRIBUNPALU.COM/NUR SALEHA
Salah satu pedagang garam tambak Talise menunggu dagangannya, Rabu (17/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alan Sahril

TRIBUNPALU.COM, PALU - Petani Garam di pesisir pantai Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, menjerit karena kehilangan mata pencarian.

Seorang petani garam Talise bernma Samia mengatakan, hilangnya mata pencarian mengakibatkan berkurangnya pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Samia menuturkan, pendapatan dari bertani garam merosot drastis pasca bencana Gempa Bumi, Tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 di wilayah Palu, Sigi dan Donggala.

Kemudian diperparah Pandemi Covid-19 yang berdampak besar secara nyata pada seluruh aspek kehidupan masyarakat baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan.

Baca juga: Pesan Ketum KONI Sulteng Nizar Rahmatu di HUT ke-1 TribunPalu.com: Selalu Jaga Integritas

"Hingga saat ini Kelompok Penyintas Petani Garam Talise terus memproduksi garam grosokan dengan peralatan sederhana dan dijual untuk kebutuhan pupuk serta konsumsi makanan dengan harga yang sangat murah," beber Samia, Rabu (12/1/2022) siang.

Samia menyebut, untuk Kebutuhan pupuk, garam di jual dengan harga 10 ribu rupiah per kilogram.

Dan untuk kebutuhan konsumsi makanan dijual dengan harga 15 ribu rupiah per kilogram.

"Pengembangan produk turunan seperti garam siap saji menjadi terobosan yang dilakukan oleh Kelompok Penyintas Garam Ina Talise guna membantu penghidupan serta pendapatan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," ungkapnya.

Samia mengatakan, saat ini petani Garam Talise mengalami berbagai masalah.

Mulai dari ketidakpastian hunian tetap, penertiban lapak penjualan garam dan ketidakpastian keberlanjutan bertani garam karena pembangunan tanggul Teluk Palu.

Hingga potensi pencemaran lingkungan dari aktivitas pertambangan PT Citra Palu Mineral.

Olehnya, Samia mengharapkan perhatian dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan juga Pemkot Palu terkait permasalahan petani garam itu.

"Untuk mendukung hal ini diperlukan perhatian serius dari berbagai pihak salah satunya, pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait," imbuhnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved