Breaking News:

Kasus Omicron di Indonesia Paling Banyak dari Saudi, Kemenag akan Evaluasi Pemberangkatan Umrah

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag akan melakukan evaluasi terkait keberangkatan jemaah umrah ke Tanah Suci di tengah lonjakan Omicron.

KOMPAS/Agus Mulyadi
ILUSTRASI - Jemaah haji tengah melakukan tawaf, mengelilingi Kabah di area Masjidil Haram, Mekkah, pada musim haji 2012. 

TRIBUNPALU.COM – Diketahui saat ini kasus Omicron yang terjadi di Indonesia berasal dari para pelaku perjalanan antar negara dan juga transmisi lokal.

Penularan yang terjadi dari para pelaku perjalanan antar negara sebagian besar berasal dari Arab Saudi.

Baca juga: Luhut Prediksi Puncak Gelombang Ketiga Covid-19 di Indonesia Terjadi pada Februari: karena Omicron

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin di Istana Kepresidenan,Jakarta pada Senin (10/1/2022).

“Negara-negara yang paling tinggi sekarang bergeser, pertama adalah Arab Saudi, kedua Turki, ketiga Amerika Serikat, dan yang keempat adalah Uni Emirat Arab,” kata Budi Gunadi Sadikin melansir dari KompasTV.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) RI saat ini tengah melakukan evaluasi terkait pemberangkatan calon jemaah umrah ke Arab Saudi.

Evaluasi ini berdasarkan adanya temuan terkait kasus Covid-19 varian Omicron paling banyak berasal dari pelaku perjalan luar negeri, terutama Arab Saudi.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief bersama beberapa Kementeerian telah menyiapkan skenario jemaah umrah yang tiba di Indonesia.

“Kami sudah menyiapkan evaluasi terhadap jemaah yang tiba dari Saudi Arabia. Kami sudah bertemu dengan Kementerian Kesehatan bahkan Kmenterian yang lain untuk menyiapkan skenario kepulangan itu dan rekomendasinya perlu diketahui, selama itu  belum ada larangan kita mendorong jangan terlalu banyak-banyak pergi,” kata Hilman Latief saat diwawancarai. 

Hilman Latief mengungkapkan alur keberangkatan serta jumlah jemaah yang berangkat ke Tanah Suci juga harus diperhatikan.

“Flow keberangkatan,jumlahnya, pulangnya bagaimana, ini yang harus diperhatikan. Termasuk kalau membawa jemaah banyak jelas waktu berangkat hotelnya dimana, waktu pulang karantinanya dimana,bukan dadakan,” lanjutnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas TV
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved