Senin, 27 April 2026

Demo Tambang di Parimo

Senator Sulteng Minta Kapolri Usut Pelaku Penembakan Warga di Parigi Moutong

Senator asal Sulawesi Tengah itu menyampaikan penyesalan sekaligus kecaman atas penanganan kasus unjuk rasa yang berujung tewasnya warga tersebut.

Editor: mahyuddin
facebook
Senator Sulteng Abd Rachman Thaha 

TRIBUNPALU.COM - Kasus penembakan berujung tewasnya Rifaldi (221) warga Desa Tada, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menjadi perhatian Anggota DPD RI Abdul Rachman Thaha (ART).

Senator asal Sulawesi Tengah itu menyampaikan penyesalan sekaligus kecaman atas penanganan kasus unjuk rasa yang berujung tewasnya warga tersebut.

Pria kelahiran 17 September 1979 itu meniali, tidak ada upaya persuasif dan komunikatif yang dilakukan baik gubernur, bupati, camat termasuk kapolda dan kapolres atas penolakan warga terkait terbitnya IUP tambang emas di Desa Katulitiwa, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parimo, yang menjadi lokasi unjuk rasa.

"Sudah tiga hari ratusan warga demo menolak IUP, karena khawatir dampak mercure tambang emas itu ke sawah mereka, tetapi aspirasi mereka tidak mendapat tanggapan bahkan berujung tertembaknya warga," kata Abdul Rachman Thaha.

Baca juga: 3 Hari Didemo Warga Parigi Moutong Sulteng, Apa Itu PT Trio Kencana?

Menurutnya, warga tidak anti investasi sepanjang dilakukan sesuai prosedur. Melalui pelinatan tim ahli, yang kemudian disampaikan pada masyarakat.

"Kenapa demontrasi sampai tiga hari berturut-turut artinya tidak ada komunikasi. Hari kedua mungkin ada utusan gubernur tapi tidak ada solusi. Hari ketiga tadi malam, gubernur juga ditunggu sampai jam 12 malam tapi tidak hadir, " bebernya.

Dia menyesalkan karena pemerintah dan aparat penegak hukum tidak tanggap.

Khusus kepada kepolisian yang mengawal unjuk rasa secara represif, pihaknya meminta Kapolri mengusut kasus yang berujung penembakan warga tersebut.

Abdul Rachman Thaha juga meminta warga yang ditahan segera dibebaskan, juga kepada PT Trio Kencana selaku perusahaan pemegang izin pertambangan untuk sementara tidak melakukan pengerjaan di lokasi tambang sampai masalah ini kondusif.

Ia yakin dan percaya Diskrimum mampu selesaikan persoalan ini.

"Kami akan agendakan hearing Kapolri. Saya minta kepolisian mengusut para pelaku penembakan, dan memberikan tindakan tegas kepada oknum yang terlibat," ucap Abdul Rachman Thaha.

Baca juga: Demo Ricuh dengan Polisi di Parimo Renggut 1 Nyawa, Kapolda Sulteng: Tidak Sesuai SOP

Sebanyak 59 pengunjuk rasa ditahan di Mapolsek Parigi Moutong pascaunjuk rasa berakhir ricuh di Desa Siney, Kecamatan Tinombo Selatan, Sulawesi Tengah.

Diketahui, unjuk rasa terkait penolakan tambang emas itu berakhir ricuh.

Pendemo dan polisi saling lempar batu. Bahkan, warga bernama Ridaldi (21) tewas tertembak.

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, pengunjuk rasa ditahan untuk keperluan pemeriksaan.

Setidaknya ada 3 truk dan belasan sepeda motor turut diamankan di Polres Parimo.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved