Trending Topic

Tangis Keluarga Santriwati Lihat Herry Wirawan Lolos Hukuman Mati, Hakim: Dia Sudah Menyesal

Lolos Hujuman Mati, keluarga para santriwati korban rudapaksa Herry Wirawan hanya bisa menangis mendengar putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim.

Editor: Putri Safitri
TRIBUN JABAR/Gani Kurniawan
Herry Wirawan di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/1/2022). 

TRIBUNPALU.COM - Herry Wirawan lolos dari hukuman mati dan diberi vonis penjara seumur hidup oleh hakim.

Keluarga santriwati korban rudapaksa Herry Wirawan pun kecewa dengan vonis yang diterima sang guru ngaji bejat tersebut.

Keluarga para santriwati korban rudapaksa Herry Wirawan hanya bisa menangis mendengar putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup kepada terdakwa Herry Wirawan.

Putusan tersebut dianggap pihak keluarga korban tak sesuai dengan harapan, sebab keluarga para korban menginginkan pelaku rudapaksa itu dihukum mati.

Seperti diketahui, Herry Wirawan yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren di wilayah Bandung ini telah merudapaksa 13 orang santriwatinya.

Bahkan, sembilan orang bayi terlahir dari rahim santriwatinya akibat kebejatan Herry Wirawan.

Hingga saat ini, santriwati korban rudapaksa Herry Wirawan masih mengalami trauma.

Vonis hukuman penjara seumur hidup ini lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut Herry Wirawan agar diberikan hukuman mati.

Hukuman tambahan berupa kebiri kimia dan denda Rp 500 juta pun turut ditolak hakim dalam persidangan.

Majelis hakim menilai hukuman mati ini bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Selain itu Herry sebagai terdakwa juga telah menyesal dan mengakui kesalahannya.

“Berdasarkan pembelaan terdakwa, hukuman mati bertentangan dengan HAM. Dan pada pokoknya, terdakwa menyesal atas kesalahan,” ujar majelis hakim.

Terkait hukuman kebiri kimia, hakim mempertimbangkan, kebiri kimia dapat dilakukan untuk jangka waktu paling lama dua tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bogor
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved