Palu Hari Ini
Dalam 10 Hari 2 Warga Tewas Diserang Buaya, Bom Waktu di Teluk Palu Benar-benar Meledak?
Masyarakat Kota Palu, terutama yang bermukim di sekitar sungai dan teluk Palu dibuat was-was dengan serangan buaya.
"Korban alami luka robek bagian kepala sebelah kanan dan belakang, robek bagian dada, punggung belakang, dan bagian lengan kiri," tuturnya.
Disebut Bom Waktu
Kehadiran Buaya di Sungai Palu diumpamakan seperti bom waktu yang bakal menelan korban jiwa sewaktu-waktu.
Apalagi Sungai Palu juga menjadi mata pencarian sebagian warga, baik untuk memancing maupun memanen material pasir dan batu.
Ada banyak Buaya jenis Crocodylus Porosus atau Buaya muara di sungai tersebut.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pada tahun 2019 mencatat 30 ekor Buaya di sungai itu dan terus bertambah.
Buaya dalam sekali bertelur dapat menghasilkan 10 butir hingga 100 butir tergantung dari jenisnya.
Waktu penetasan telur Buaya juga tergolong singkat, yakni kurang dari 100 hari.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu bahkan memprediksi 20 ekor Buaya keluar dari cangkang telur dan membangun teritorial di Sungai Palu.
“Yang paling mengerikan lagi, Buaya di Sungai Palu terus bertambah sementara usia hidupnya rata-rata hingga 70 tahun. Bisa dibayangkan kondisi sungai itu jika ini terus dibiarkan,” jelas Kadis Damkar dan Penyelamatan Palu Sudaryano R Lamangkona kepada TribunPalu.com, Minggu (20/3/2022).
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu menjadi ujung tombak dalam penanganan Buaya.
Hanya saja, pasukan berseragam biru itu terkendala berbagai hal untuk menjalankan amanat
Peraturan Kementerian Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 16 tahun 2020 itu.
Bukan hanya peralatan dan kemampuan, personel Damkar juga masih dijanggal kewenangan.
“Bahwa yang mempunyai kewenangan penanganan adalah institusi dalam melakukan upaya konservasi sumber daya alam,” ucap Sudaryano.
Dia menambahkan, sungai itu masuk dua wilayah administratif Kabupaten Sigi sebagai hulu dan Kota Palu sebagai hilir.