Demo Tambang Banggai
Kapolsek dan Danramil Luwuk Tiba, Warga Buka Kembali Jalan Desa Bantayan Banggai
AKP Candra dan Letda Romel bernegosiasi dengan warga Desa Bantayan yang menggelar aksi tutup jalan.
Penulis: Asnawi Zikri | Editor: mahyuddin
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri
TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Sejumlah warga Desa Bantayan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah akhirnya membuka jalan yang sempat ditutup sekitar 1,5 jam.
Aksi tutup jalan dengan cara bakar ban bekas itu berhenti setelah Kapolsek Luwuk AKP Candra dan Danramil Luwuk Letda Romel Kamea menemui warga Desa Bantayan.
Awalnya, AKP Candra dan Letda Romel bernegosiasi dengan warga Desa Bantayan yang menggelar aksi tutup jalan, kemudian akhirnya kain yang bertuliskan protes dibuka.
Setelah itu, giliran potongan kayu yang dikeluarkan dari ruas jalan dan api dipadamkan.
"Ini akses umum kasian, berapa masyarakat yang ada di sana, sakit dan lain sebagainya," ujar AKP Candra kepada sejumlah warga Desa Bantayan.
Baca juga: Protes Perusahaan Tambang, Warga Desa Bantayan Banggai Tutup Jalan
Akhirnya, aksi tutup jalan itu dihentikan.
Tetapi dilanjutkan dengan pertemuan dengan di kantor Desa Bantayan.
Sebelum aksi tutup jalan dihentikan, terlihat antrean kendaraan roda empat dan roda dua yang hendak ke arah Kecamatan Masama maupun arah Luwuk.
Seperti diketahui, aksi tutup jalan itu dilakukan dengan membakar ban bekas dan membentangkan kain bertuliskan protes di tugu Desa Bantayan.
Gerakan untuk melakukan tutup jalan oleh masyarakat itu karena mereka memprotes aktivitas perusahaan pengolahan baku kapur PT Kostrindo Putra Perkasa (KPP) yang beroperasi di wilayah itu.
Perusahaan itu diduga beroperasi tanpa sosialisasi kepada masyarakat.
Koordinator pemilik lahan masyarakat Bantayan, Aludin mengungkapkan, perusahaan pengolahan batu kapur PT KPP itu belum berkoordinasi dengan masyarakat pemilik lahan.
Baca juga: Gempa 5.2 Magnitudo di Sulut Terasa di Luwuk Banggai, Warga: Mau Lari Keluar tapi Hujan Deras
Anehnya lagi, aktivitas perusahaan justru menggunakan jalan kantong produksi milik Pemerintah Desa Bantayan.
"Harusnya sosialisasi dulu supaya masyarakat tahu. Tapi tiba-tiba sudah beraktivitas," kata Aludin kepada TribunPalu.com di sela-sela aksi.
Kata dia, warga sebelumnya telah melakukan aksi protes dengan memalang akses jalan ke perusahaan. Namun tak diindahkan.
Sehingga aksi protes pun berujung pada penutupan akses jalan Luwuk-Masama agar aspirasi masyarakat terdengar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Demo-di-Desa-Bantayan-Luwuk.jpg)