Warga Inggris Mengaku Berkali-kali Hampir Mati saat Jadi Relawan Ukraina karena Serangan Rusia

Seorang warga negara Inggris menceritakan pengalamannya berkali-kali hampir tewas selama menjadi relawan di Ukraina.

AFP/ALEXANDER NEMENOV
Seorang tentara Rusia berpatroli di jalan Mariupol pada 12 April 2022, saat pasukan Rusia mengintensifkan kampanye untuk merebut kota pelabuhan yang strategis, bagian dari serangan besar-besaran yang diantisipasi di Ukraina timur, sementara Presiden Rusia mengajukan kasus menantang untuk perang di Rusia. (Photo by Alexander NEMENOV / AFP) 

TRIBUNPALU.COM - Pada awal Februari 2022, seorang warga negara Inggris bernama Ben (22) memutuskan untuk pergi ke Ukraina menjadi relawan di sana.

Demi membantu Ukraina melawan para tentara Rusia, Ben rela meninggalkan keluarga dan pekerjaannya.

Ben mengaku dirinya bersama dua warga Inggris lainnya bernama Tim (33), dan Connor (23) berkali-kali nyaris tewas karena serangan Rusia.

Baca juga: Kondisi Terkini Vladimir Putin Terkuak, Rusia Bantah Kabar Buruk Soal Penyakit Kanker

Baca juga: Cara Ampuh Warga Ukraina Usir Pasukan Rusia, Biarkan Rumah dan Lahan Perkebunan Direndam Air

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Ben mengaku pergi ke Kiev/Kyiv dengan cara ikut konvoi bantuan kemanusiaan.

Di sana ia bertemu dengan Tim dan Connor yang juga berniat menjadi relawan di Ukraina.

"Kami telah berada di beberapa situasi di mana kami berpikir kami akan mati," ujar Connor.

Connor bercerita, pernah saat dirinya dan Ben sedang merokok di luar ruangan, datang serangan artileri Rusia.

Connor melanjutkan, pernah juga dirinya dan rekan-rekannya menerima serangan roket Rusia.

Akibatnya ia tertimpa bongkahan beton yang mengenai punggungnya.

"Saya kesakitan tetapi saya kembali pulang sebab banyak orang yang lebih menderita ketimbang saya," ucap Connor.

Kerusakan lingkungan di Ukraina akibat perang yang diinisiasi Rusia semakin memprihatinkan.

Menjatuhkan tanggung jawab pada Rusia, para ahli menilai bahwa negara tersebut harus diadili akibat aksinya terhadap kondisi lingkungan Ukraina.

Pasalnya, kerusakan yang terjadi di tanah Ukraina akan berdampak selama bertahun-tahun pada kelangsungan hidup manusia dan biota yang tinggal di atasnya.

Diketahui, ketika penyelidik forensik di Ukraina mengungkap bukti pembunuhan yang mungkin merupakan kejahatan perang, para ahli dari jenis yang berbeda sedang bekerja untuk mendokumentasikan dampak perang Rusia terhadap lingkungan.

Kementerian Ukraina yang bertanggung jawab atas perlindungan lingkungan mengatakan dalam sebuah pengarahan bulan lalu bahwa menghancurkan peralatan militer dan amunisi, serta meledakkan rudal dan bom udara, telah mencemari tanah dan air tanah dengan bahan kimia, termasuk logam berat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved