OPINI
Memaknai Kemerdekaan, Dengan Cara Apa?
77 tahun silam, saat terjadi pertempuran Surabaya, Bung Tomo berpidato dihadapan arek-arek Suroboyo dan para santri untuk membangkitkan semangat ghira
Penulis: Citizen Reporter | Editor: Haqir Muhakir
Siti Latifa Tusalimah
Pemerhati Islam, Pengemban Dakwah
“Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!” seru Bung Tomo dalam pidatonya pada tanggal 10 November 1945 seraya berharap serta memohon hanya kepada Allah SWT lah pertolongan, kekuatan dan keberanian yang mampu menggetarkan para musuh penjajah.
77 tahun silam, saat terjadi pertempuran Surabaya, Bung Tomo berpidato dihadapan arek-arek Suroboyo dan para santri untuk membangkitkan semangat ghirah jihad dan melawan penjajahan di bumi nusantara. Dengan pekikan takbir tersebut ternyata mampu menghidupkan api semangat perjuangan dan memadamkan gemuruh ketakutan dalam setiap jiwa. Sehingga mereka maju tak gentar di medan pertempuran kala itu. Sungguh merinding pastinya jika kita berada dalam euforia tersebut.
Jika kita kembali melihat alinea ke-3 pembukaan UUD 1945, disana tertuliskan dengan jelas bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sepenuhnya karena perjuangan dan pengorbanan yang telah di torehkan para pahlawan melainkan didapat atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, sepatutnya kita harus bersyukur atas kemerdekaan yang Allah SWT hadiahkan untuk seluruh rakyat Indonesia khususnya para umat Islam, sebab kita ketahui bersama-sama bahwa para ulama, kyai dan santri rela memberikan apa yang mereka miliki untuk membebaskan negri ini dari penjajahan sampai titik darah penghabisan . Semua itu mereka lakukan karena Allah SWT semata seraya mengharap pahala dan pertolongan dari-Nya. Semoga Allah merahmati mereka dan menempatkannya di surga firdaus-Nya. Aamiin aamiin ya rabbal Alamiin.
Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia selalu merayakan momentum kemerdekaannya, bahkan menjelang hari kemerdekaan sudah terpasang bendera merah putih menghiasi tiap-tiap rumah, instansi dan juga di jalan-jalan. Tidak hanya itu, masyarakat pun mengadakan berbagai macam kegiatan seperti doa bersama, upacara, lomba, karnaval dan puncaknya dangdutan yang diiringi dengan kemaksiatan sebagai bentuk ekspresi bahagia sekaligus berterimakasih atas perjuangan para pahlawan bangsa.
Lantas bagaimana cara mensyukuri kemerdekaan ini?
Allah SWT telah memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)
Makna syukur menurut Imam Asy-Syaukani rahimahullah,
“Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312).
Sedangakan syukur itu sendiri memiliki tiga rukun sebagaimana yang di katakan Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Siti-Latifa-Tusalimah-Pemerhati-Islam-Pengemban-Dakwah.jpg)