PDIP dan Demokrat Makin Memanas, Kubu Banteng Bongkar Kecurangan Pemilu di Era SBY

PDIP buka suara soal kecurangan pemilu yang terjadi di era pemerintahan SBY.

Kolase Tribunnews
Logo PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat - PDIP buka suara soal kecurangan pemilu yang terjadi di era pemerintahan SBY. 

TRIBUNPALU.COM - DPP PDI Perjuangan mulai geram dengan pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY saat Rapimnas Partai Demokrat mengaku dapat informasi ada tanda-tanda Pilpres 2024 bisa tidak jujur dan adil dan ada skenario jahat hanya ada dua pasangan capres dan cawapres.

Menanggapi pernyataan SBY tersebut, pihak PDIP pun juga akan buka suara soal kecurangan pemilu yang terjadi di era pemerintahan SBY.

Tak hanya itu Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai informasi tersebut sangat jauh dari yang dipikirkan oleh SBY.

Baca juga: Hati-hati kalau Mau Ganggu Pak Jokowi PDIP Ingatkan Demokrat untuk Tak Bikin Skenario Jahat

Hasto menegaskan pemerintahan Jokowi tidak pernah berpikir untuk membuat skenario jahat untuk memuluskan Pilpres 2024. Termasuk membuat batasan pasangan Capres dan Cawapres di Pilpres 2024.

"Bisa tidaknya Demokrat bisa mencalonkan AHY dalam pilpres jangan dijadikan indikator sebagaimana tuduhan adanya skenario Pemerintahan Pak Jokowi untuk berbuat jahat dalam Pemilu. Pak Jokowi tidak pernah punya pikiran batil sebagaimana dituduhkan Pak SBY," ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/8/2022).

Hasto juga mengkritisi pernyataan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu bahwa selama 10 tahun Demokrat memimpin tidak pernah melakukan kecurangan Pemilu. Menurutnya hal ini sangat mudah dipatahkan.

Pertama soal daftar pemilih tetap (DPT). Di era kepemimpinan SBY manipulasi DPT bersifat sangat masif. Salah satu buktinya ada di Pacitan, kampung halaman SBY.

"Jaman Pak Harto saja tidak ada manipulasi DPT," ujar Hasto.

Kedua SBY mendorong liberalisasi politik melalui sistem pemilu daftar terbuka. Dengan berbagai manipulasi tersebut, Partai Demokrat mengalami kenaikan 300 persen. 

Usai SBY tidak berkuasa, hal-hal yang sifatnya penggelembungan mengempes atau pecah sendiri, karena cara menggelembungkannya bersifat instan.

Ketiga data-data hasil Pemilu dimusnahkan. Di era SBY Berbagai bentuk tim senyap dilahirkan. Selain itu, menurut penelitian, SBY menggunakan dana hasil kenaikan BBM untuk kepentingan elektoral. 

Pada saat bersamaan terjadi politisasi hukum terhadap lawan politik Pak SBY.

"Mohon maaf, Pak SBY tidak bijak. Dalam catatan kualitas Pemilu, tahun 2009 justru menjadi puncak kecurangan yang terjadi dalam sejarah demokrasi, dan hal tersebut Pak SBY yang bertanggung jawab," ujar Hasto.

Keempat merekrut mantan anggota KPU. Hasto menilai perekrutan Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati, salah satu indikasi adanya kecurangan pemilu di era pemerintahan SBY.

Halaman
12
Sumber: Kompas TV
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved