Kamis, 30 April 2026

Dosen Indonesia Dinobatkan Sebagai Ilmuwan Berpengaruh Dunia, Ini Sosoknya!

Seorang dosen asal Indonesia dinobatkan sebagai ilmuwan berpengaruh di dunia.

Tayang:
Handover
Prof Mohammad Basyuni dinobatkan sebagai ilmuwan berpengaruh dunia berdasarkan Stanford University Ranking. 

TRIBUNPALU.COM - Seorang dosen asal Indonesia dinobatkan sebagai ilmuwan berpengaruh di dunia.

Dia adalah Prof Mohammad Basyuni, S.Hut, M.Si, Ph.D.

Prof Mohammad Basyuni dinobatkan sebagai ilmuwan berpengaruh dunia berdasarkan Stanford University Ranking.

Sosok Prof Mohammad Basyuni ini selama ini dikenal sebagai Dosen Fakultas Kehutanan di Universitas Sumatera Utara (USU).

Tapi siapa sangka, selama ini Prof Mohammad Basyuni yang lahir di Sidoarjo, 21 April 1973 itu sudah meraih beragam penghargaan atas ilmu yang dia miliki.

Pada tahun 2020 lalu, ia pernah mencatat hattrick penghargaan sekaligus, yakni meraih World Class Professor Award 2020 Skema B dari Kemdikbud, dan meraih penghargaan Peneliti Terbaik 1 Universitas Sumatera Utara tahun dan JSPS Core to Core 2020-2023 dari Japan Society for the Promotion of Science.

Sementara di tahun 2021 kemarin, Prof Basyuni berhasil meraih penghargaan The Selected Projects of The eASIA Joint Research Program dari eASIA Joint Research Program.

Pada tahun 2018, ia lulus dari United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, Jepang dan mengejar posisi Postdoctoral Fellow di bawah dukungan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) di Center of Molecular Biosciences, Tropical Biosphere Research Center, University Ryukyus, Jepang selama dua setengah tahun lagi.

Profesor Basyuni kembali ke Indonesia pada tahun 2010, dan melanjutkan minatnya untuk memahami signifikansi fisiologis, biologis, ekologis, dan farmakologis lipid tanaman, termasuk isoprenoid dan poliisoprenoid rantai panjang di bakau.

Satu diantara penelitiannya saat ini berfokus pada pemahaman ambang pembentukan spesies perintis bakau di Sumatera Utara: implikasinya terhadap restorasi dan perubahan iklim.

Kolaborasi ini berlangsung dengan University of Glasgow dan Aberystwyth University, Inggris, guna melihat pemulihan struktur komunitas makrozoobentos dikaitkan dengan kemajuan restorasi.

Profesor Basyuni dianugerahi inisiatif bersama internasional multilateral, e-Asia JRP, bekerja pada proyek tingkat internasional dengan ilmuwan dari Jepang (Prof. Tadashi Kajita, Universitas Ryukyus) dan Filipina (Dr Venus Leopardas dari Universitas Negeri Mindanao di Naawan Poblacion).

Berikut adalah petikan wawancara Tribun-medan.com dengan Prof Mohammad Basyuni:

Apa yang membuat seorang Prof Mohammad Basyuni berhasil berkarya sebanyak ini?

Saya senang berkolaborasi. Meneliti itu banyak berkomunikasi.

Rasanya ketika meneliti suatu hal, membuat saya lebih dekat dengan sang pencipta.

Menemukan hal baru, dan bagian terkecil yang tidak bisa terlihat oleh mata.

Misalnya kita meneliti tentang Gen, hal itu tidak ujuk-ujuk ada begitu, pasti ada yang mengatur, dan itu membuat kita semakin yakin pada sang pencipta.

Jadi seorang peneliti itu pasti membuat kita semakin beriman. Karena pada dasarnya kita bukan menciptakan tapi menemukan apa yang ada di alam ini.

Mengapa bisa sampai di Kota Medan?

Saya dulunya lulus di Kementerian sebenarnya. Namun di saat bersamaan, saya lulus sebagai tenaga pengajar di USU.

Restu orang tua izinnya ke Medan, karena kalau di kementerian ada kemungkinan di lempar ke daerah dan sebagainya.

Sepertinya memang berjodoh juga dengan kota Medan.

Apakah menjadi ilmuan salah satu cita-cita Prof Basyuni?

Tidak pernah terpikir dan terbayangkan sama saya bisa terpilih menjadi ilmuan berpengaruh.

Niat saya hanya berkarya saja, namun jika karya kita diakui ya saya tentu sangat bersyukur.

Alhamdulillah ternyata karya kita bisa memberikan impact bagi orang lain.

Apa yang membuat Prof tertarik dengan bidang yang digeluti saat ini?

Sederhananya saya bekerja untuk ibadah, meneliti adalah keinginan hati saya untuk bisa memahami fenomena yang sedang terjadi.

Dan hal tersebut membuat saya yakin, semakin banyak saya dekat dengan makhluk lainnya salah satunya tanaman, juga membuat saya lebih banyak ilmu, banyak ilmu itu menjadikan kita Ulul albab.

Banyak ilmu membuat kita semakin sadar bahwa kita hanya makhluk lemah di muka bumi ini.

Penelitian tentang apa yang paling berkesan selama ini?

Salah satunya penelitian yang baru saja selesai, itu meneliti tentang mangrove ya.

Meneliti faktor apa yang mempengaruhi restorasi, ketika hutan itu dirubah menjadi lahan yang lain, misal jadi sawit, atau jadi tambak.

Nah, hal ini yang kita review, selain objeknya penelitiannya, untuk mendapatkan kerjasamanya saya harus ke bangkok, selain tingkat keberhasilan penelitiannya, moment kerja samanya juga membuat saya terkesan, sebab ini yang kerjasama secara Internasional begitu.

Apa kesulitan terbesar yang pernah dialami?

Dalam hidup saya percaya, bahwa kesulitan itu bersama kemudahan.

Fa inna ma'al usri yusra, ayat ini mengiringi perjalanan hidup saya, membuat saya selalu yakin bahwa kesulitan dan kemudahan itu datangnya beriringan.

Pesan apa yang mau disampaikan untuk para mahasiswa lainnya saat ini, agar meraih pendidikan setinggi mungkin?

Saat ini beasiswa sudah banyak ya, ada LPDP, dan lain sebagainya.

Namun semua itu harus dipersiapkan dengan baik, agar bisa mendapatkannya.

Peluangnya ada, tapi ya harus berjuang dalam meraih cita-cita, berjuang dan berdoa itu kuncinya.

Pesan saya semua itu bekerja pada proses, tidak ada yang instan di dunia ini, proses itu sangat penting.

Kalau pepatah Arab mengatakan, 'Man Jadda Wajada', siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkannya.(*)


(Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved