Selasa, 2 Juni 2026

OPINI

Potensi Pengembangan Plastik Biodegradable Berbahan Dasar Pati di Sulawesi Tengah

Menurut Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), konsumsi plastik di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 17 kg/kapita/tahun.

Tayang:
Editor: Haqir Muhakir
Handover
Esti Tantotosi 

Oleh: Esti Tantotosi

KEMASAN plastik banyak digunakan di dunia karena ringan, tahan lama, dan relatif murah untuk diproduksi. Plastik juga tahan terhadap air dan kelembapan, yang menjadikannya penghalang yang efektif untuk melindungi produk dari lingkungan.

Oleh karena itu banyak ditemukan kemasan pangan berbahan dasar plastik.

Menurut Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), konsumsi plastik di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 17 kg/kapita/tahun.

Jika jumlah penduduk Indonesia pada semester pertama tahun 2017 sekitar 261 juta jiwa, maka penggunaan plastik secara nasional mencapai 4,44 juta ton.

Namun, kemasan plastik memerlukan waktu ratusan tahun untuk terurai di lingkungan, dan berkontribusi terhadap polusi jika sampah plastik tidak ditangani dengan benar.

Pembakaran plastik akan menghasilkan emisi gas beracun seperti CO2, HCl, HF, SO2 dan dioxin yang beresiko membahayakan kesehatan manusia jika terpapar.

Program ‘recycling’ pun masih kurang efektif untuk mengurangi sampah plastik karena kesulitan dalam pengumpulan, sortasi dan purifikasinya.

Banyak negara berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada kemasan plastik sekali pakai untuk mengurangi dampak negatif ini.

Salah satu upaya yang digagas oleh peneliti dan ilmuwan yaitu menghasilkan bahan kemasan plastik yang ramah
lingkungan.

Beberapa penelitian telah menemukan teknologi pembuatan plastic dari bahan alami yang dapat terdegradasi dalam waktu singkat yang disebut sebagai plastik biodegradable atau bioplastik.

Plastik biodegradable terbuat dari bahan yang dapat terurai secara hayati, seperti pati tumbuhan, selulosa dan lemak. Bahan utama yang sering digunakan dalam pembuatan plastik biodegradable adalah pati dan Poly
Lactic Acid (PLA).

Pati merupakan bahan baku yang banyak tersedia di Indonesia.

Pati diperoleh dengan cara mengekstrak bahan nabati yang mengandung karbohidrat, seperti serealia dan aneka umbi.

Sumber karbohidrat yang banyak mengandung pati di antaranya jagung, sagu, ubi kayu, beras, ubi jalar, sorgum, talas, dan garut.

Komoditas ini merupakan hasil bumi unggulan di Sulawesi Tengah.

Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah mencatat bahwa pada tahun 2015 saja, produksi ubi jalar mencapai 16.650 ton, ubi kayu 47.295 ton, jagung 131.123 ton dan beras 544.357.

Pati memiliki karakterisik fungsional yang unik memungkinkan pati digunakan untuk berbagai keperluan, baik sebagai bahan pangan maupun nonpagan.

Oleh karena itu, dengan tersedianya bahan baku yang melimpah ini besar peluang bagi pelaku usaha di Sulawesi Tengah untuk mengembangkan industri kemasan biodegradable ini Teknologi pembuatan plastik biodegradable berbahan dasar pati sudah mulai dikembangkan di Indonesia sejak beberapa waktu yang lalu.

Bahkan sudah ada yang melakukan penelitian membuat bioplastik dengan bahan baku Pati Aren termodifikasi
yang berasal dari Sulawesi Tengah (Darwin et al, 2021).

Namun secara komersial, industri yang memproduksi bioplastik masih terbatas karena permintaan di dalam negeri masih rendah.

Di Indonesia, plastik biodegradable sebagai bahan pengemas mulai digunakan oleh beberapa industri waralaba jasa boga, sedangkan industri pangan belum banyak menggunakan (SWA, 2014).

Menurut laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2020, industri makanan dengan jumlah usaha sebanyak 63.345 unit merupakan jenis Industri Mikro dan Kecil terbanyak di Provinsi Sulawesi Tengah dibandingkan industri lainnya.

Dengan dukungan pemerintah setempat dapat dilakukan sosialisasi kepada para pelaku usaha dibidang pangan tentang teknologi dan manfaat penggunaan plastik biodegradable. Dengan demikian, industri kemasan biodegradable nantinya dapat memenuhi kebutuhan kemasan pangan di Sulawesi Tengah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved